Minggu, 06 September 2009

NUZULUL QUR’AN

Tulisan ini dimuat hari Minggu, 06 September 2009 di Koran “Radar Bekasi”
Kolom Tadarus

NUZULUL QUR’AN

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria Kota Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika

Di tanah air kita Indonesia, angka 17 memiliki makna istimewa. Alasannya, sengaja atau tidak ternyata negeri kita merdeka dari penjajahan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945. Rukun-rukun sholat juga ada 17. Bahkan pemerintah selalu mengadakan peringatan Nuzulul Qur'an pada malam 17 Ramadhan, karena pada malam 17 Ramadhan itu al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan dalil bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada hari bertemunya 2 pasukan, yaitu pada malam tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT: “…..jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari ‘Furqaan’ yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Anfaal (8):41)

Pengertian furqaan disini adalah pemisah antara yang hak dan yang batil. Sedangkan yang dimaksud dengan hari Al Furqaan adalah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al-Quranul Kariem pada malam 17 Ramadhan.

Selain itu dalam tafsirnya, Thabari meriwayatkan dengan sanadnya dari Hasan bin ali berkata : "malam Furqan adalah hari bertemunya 2 pasukan pada tanggal 17 Ramadhan". Meskipun ada juga ulama yang tidak menyetujui tentang nuzulul qur’an pada tanggal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh al-Qasthalani dalam mensyarahi hadits Bukhari telah meriwayatkan adanya perbedaan para ulama dalam menentukan malam tersebut. Ibnu Katsir didalam kitabnya ”Al Bidayah wa an Nihayah” menukil dari al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir mengatakan bahwa awal diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw adalah pada hari senin tanggal 17 Ramadhan akan tetapi ada juga yang mengatakan tanggal 24 Ramadhan.

Terlepas adanya perbedaan, tiap bulan Ramadhan umat Islam selalu diingatkan turunnya "nuzulul qur'an" terjadi pada bulan Ramadhan. Sehingga peristiwa Lailatul Qodar pun tidak dapat dipisahkan dengan Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an), karena pada malam itu pula Kitab Mulia ini Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Sebagai mana firman Allah Swt: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185). "lni adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran." (Shad: 29). “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Umat Islam sangat bergembira dengan bulan Ramadhan adanya peristiwa turunnya Al-Qur`an. Sebab, Rasulullah Saw. senantiasa mempelajari Al-Qur`an di bulan ini bersama Malaikat Jibril. Beliau mendengarkan bacaannya, merenungkannya,memikirkan pelajaran yang ada di dalamnya, menghidupkan ajaran-ajarannya, melapangkan hatinya, dan menggali cinta dalam mutiara hikmah Al-Qur`an.

Terjadinya Nuzulul Qur'an hendaknya juga memiliki pengaruh yang besar bagi hidup ini dalam memposisikan Al-qur’an dengan sebaik-baiknya, tidak hanya diletakkan di atas lemari, di lekar, dijadikan pajangan semata di ruang tamu, atau dibiarkan berdebu bahkan sampai usang bentuknya.

Betapa banyak keutamaan Al-Qur’an yang dapat kita gapai di antaranya sebagai penyembuh atas penyakit. “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra (17): 82) Al-Qur'an juga adalah kitab yang berisi petunjuk dan penjelasan bagi manusia, tidak ada kebatilan di dalamnya, berisi aturan dan undang-undang langit untuk mengatur dan menentramkan dunia. Al-Qur'an berbicara tentang masa lalu, hari ini, juga masa yang akan datang. Berpahala bagi yang membaca dan mempelajarinya serta kitab yang dapat mengantarkan kepada keselamatan di dunia dan di akhirat. Bahkan akan mendapati keutamaan bagi yang mengimani dan mengamalkannya. Itulah kitab suci umat Islam, Kitab Al-Qur'an yang mulia dan terjaga, yang tidak ada keraguan di dalamnya. "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-hijr: 9)

Bahkan, diantara mu’jizat Al-Qur’an yaitu isi kandungannya banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, al-Quran juga sebagai kitab petunjuk bagi seluruh alam. Jadi Al-qur’an kandungannya berbicara tentang geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an.

Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan : "Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan hujjah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya.

Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan. Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan amalan ibadah lainnya. Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat. Sebagai mana Sabda Rasulullah Saw: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya. " (HR. Muslim dari Abu Umamah).

Al-hasil, banyak pelajaran yang kita dapati dari peristiwa nuzulul qur’an yaitu peristiwa yang mengajarkan kepada kita akan pentingnya posisi Al-qur’an sebagai pedoman hidup dengan membacanya, memahaminya, mengajarkannya kepada orang lain bahkan mengamalkannya. Hal ini tercipta, agar menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai budaya ummat Islam yang gemar baca, mengajar dan mengamalkan al-Qur’an. Sebagaimana hadits nabi yang diriwatkan oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain".(Bukhari). Bahkan akan diganjarkan pahala bagi yang membacanya sebanyak sepuluh kali lipat. (QS. Al-An’am: 160). Semoga.
Waallahu A’lam.

Tidak ada komentar: