Jumat, 04 September 2009

Puasa dan Peduli Sosial

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria - Kota Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika

Waktu seperti air yang mengalir, tak terasa kita sudah memasuki awal fase kedua (magfiroh) dalam bulan romadhan yaitu hari kesebelas di bulan ini. Puasa adalah media latihan setiap individu untuk menahan lapar dan haus dahaga sejak fajar sampai magrib selama sebulan penuh lamanya. Pelajaran yang sangat berharga tentunya dengan berpuasa melatih kita merasakan bagaimana posisi dan keadaan orang-orang yang sering kehausan dan kelaparan. Dengan merasa seperti itu, diharapkan kita menjadi sensitif terhadap persoalan-persoalan yang sering dihadapi orang miskin dengan ringan tangan membantunya.

Sehingga, dengan puasa yang dilaluinya timbul cinta kasih kepada sesama manusia. Kita merasakan tidak makan dan minum saja dari waktu yang telah ditentukan tersebut saja betapa terasa lapar dan dahaga, letih, lemas, dan kurang bertenaga. Bagaimana dengan saudara kita yang memiliki keterbelakangan ekonomi tidak makan dan minum hampir setiap hari, boleh jadi ada yang lebih dari satu, dua, dan tiga hari atau bahkan ada yang berminggu-minggu lamanya?

Puasa adalah ritual keagamaan yang penuh makna yang bernuansa humanis/kemanusiaan. Ibadah puasa kian bermakna jika dilaksanakan dengan disertai pemahaman akan hikmah di dalamnya bahkan dengan sukarela membantu terhadap sesama dengan berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersedekah. Apalagi di bulan yang penuh ampunan Allah Swt. Pernah suatu ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat; “ya Rasulullah perbuatan apa yang sangat mulia (dilakukan oleh manusia)? Rasul menjawab: “Berbuat kebajikan atau bersedekah pada bulan Romadhan”. (HR. Bukhori) Sebab, pada bulan ini amal kebajikan termasuk sedekah akan dilipat gandakan oleh Allah sepuluh kali lipat (QS. Al-An’am: 160) bahkan sampai lebih yaitu tujuh ratus kali lipat pahala yang diperolehnya (QS. Al-Baqarah : 261).

Pada dasarnya saat kita melakukan amal sosial adalah untuk diri kita sendiri. (QS. Al-Jatsiyah : 15) Sedekah berarti berderma atau melakukan perbuatan yang baik karena Allah Swt semata. Banyak model sedekah yang dapat kita lakukan dalam rangka peduli sosial. Sedekah membantu kepada mereka yang membutuhkan baik dalam bentuk barang (makanan dan minuman atau lainnya) dan jasa, sedekah juga bisa lewat dengan senyuman, berzikir sehingga enggan menyakiti orang lain bahkan orang yang menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dalam jalan raya pun dikategorikan oleh Rasul sebagai bentuk sedekah atau peduli sosial. (HR. Bukhori) Orang yang gemar memberikan makanan pada orang yang kelaparan. Ini adalah praktik riil bagaimana kepedulian itu ditunjukkan dengan kerelaan kita memberikan sebagian harta kita untuk meringankan beban mereka dengan bersedekah dan berzakat.

Islam adalah agama yang humanis, memperhatikan masalah sosial. Hal ini dapat juga dicermati bagaimana saat kita beribadah shalat yang diakhiri dengan salam (tengok kanan dan ke kiri ). Inipun boleh jadi sebagai simbol disamping sebagai bentuk ibadah kepada Allah, agar kita selalu mengingat, memperhatikan dan membantu meringankan beban kesulitan ekonomi saudara kita yang ada disamping kanan dan samping kiri kita.
.
Allah Swt telah berjanji akan memasukkan mereka (yang meringankan beban saudaranya dengan bersedekah/berzakat) ke dalam syurga firdaus yang kekal di dalamnya (QS. Al-mu’minun: 10-11). Bahkan Allah akan memasukkan kepada mereka yang tidak peduli sosial yaitu ke dalam neraka (saqar). “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin” (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-45).

Al-hasil, Puasa yang kita lalui mudah-mudahan dapat membuat rasa peduli sosial terlatih. Bahkan semakin meningkatkan amal sosial kita secara horizontal, yang berdampak nyata pada masyarakat dan lingkungan. Di samping, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt secara vertikal agar keimanan dan ketakwaan kita semakin meningkat. Amin.
Waallahu A’lam



Sumber: dimuat pada Koran “Radar Bekasi” : Tadarus, Tanggal 1 September 2009

Tidak ada komentar: