Minggu, 28 Agustus 2011

TEKS KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H MUHAMMAD ZEN


MENINGKATKAN DISIPLIN KEIMANAN, KEJUJURAN, DAN KEMERDEKAAN DALAM MENGUKIR PRESTASI HIDUP[*])
Oleh: Muhammad Zen, MA**)

أللهُ أَكْبَر.  9x ولله الحمد.
الحمد لله الذى جعل الاعياد موسم الخيرات وامرنا بإصلاح معيستنا لنيل السعادة و رضاه أشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له خالق الارض والسموات.         
أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ عباد الله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى
قَالَ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ.  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.  وَلَـوْ أَنَّ أَهْلَ  اْلقُرَى ءَامَنُوْا واتَّــقَوا لَـفَتحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلكِن كَذَّبوُا فَأَخَذْناَهُمْ بمِا كَانوُا يَكْسِبُون.[الأعراف: 96] صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ. وقال النبى من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر (رواه البخارى)

Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ma’asyiral mu’slimin walmuslimat rahimakumullah !
Selaku khatib mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1432 H:
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائزين كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Semoga Allah menerima Amal ibadah kita semua, semoga kita kembali menjadi fitrah  dan meraih kesuksesan. Dan semoga setiap tahun kita selalu dalam kebaikan.

Saudaraku yang berbahagia…
Pada hari ini tanggal 1 Shawal umat Islam di seluruh penjuru dunia, dari Barat sampai ke Timur dari Utara sampai ke Selatan mengumandangkan Takbir, Tahlil dan Tahmid membesarkan lafadz asma Allah, dengan riang gembira dan berbahagia. Bergembira karena umat Islam telah berhasil menunaikan kewajiban ibadah Ramadhan. Kegembiraan itu direfleksikan dengan syukur dan mengagungkan asma Allah. Allahu akbar 3 x

Spirit Allahu Akbar mengajarkan umat Islam bahwa hidup di dunia ini hanya Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Janganlah kita menuhankan harta, pangkat, popularitas, dsb. Karena yang menuhankan harta, pasti disiksa oleh hartanya. Yang menuhankan pangkat pasti menderita karena pangkatnya. Yang menuhankan jabatan pasti nelangsa karena jabatannya. Yang menuhankan popularitas pasti tersiksa dan diperbudak oleh popularitasnya. Agar bahagia, kuncinya adalah laa ilaha illallah. Selain Allah adalah makhluk. Tidak akan ada yang membawa mudharat kecuali tanpa ijinnya  yang tidak akan membawa mudharat tanpa ijinnya.

Tahun ini ramadhan berulang berbarengan dengan bulan Agustus. Di saat kita sedang melaksanakan puasa Ramadhan tahun ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke-66 tahun. Semoga semangat berjuang dan berkarya semakin terpatri dalam jiwa kita dalam mengisi kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan kemerdekaan tidak hanya merdekanya kita dari pada penjajah, melainkan juga merdekanya jiwa dan raga kita dari rongrongan nafsu angkara murka, karena penjajahan hawa nafsu jauh lebih berat dari penjajahan yang dilakukan bangsa lain kepada bangsa kita. Sesungguhnya kerakusan yang diperlihatkan manusia terhadap kekuasan dan kekayaan adalah bentuk belum merdekanya diri pribadi kita sebagai anak bangsa.

Tak salah WR Supratman dalam bait lagu Indonesia Raya memasukkan kalimat ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya untuk Indonesia raya”, karena kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika jiwa dan raga kita itu terbebas dari belenggu penjajahan hawa nafsu angkara murka, dan para pejuang kemerdekaan Indonesia bergerak setelah mereka memerdekakan diri mereka dari penjajahan hawa nafsu, karena kemerdekaan diri pribadi adalah kekuatan besar seorang pejuang dalam mewujudkan cita-cita mulia mereka untuk sebuah kemerdekaan. Apalagi selama manusia hidup kita akan selalu dijajah sama yang namanya setan. Jadi kita harus mengenali siapa yang menjajah kita sebenarnya, untuk melawan penjajah hendaknya kita dapat mengendalikan hawa nafsu. Sehingga, semangat kemerdekaan yang memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan, berkorelasi terhadap kemerdekaan setiap perbadi dari godaan syetan.

Allahu Akbar 3 X wa lillah al-hamd!
Hari raya dinamakan dengan 'id yang berarti berulang dari waktu ke waktu, bisa minggu demi minggu, bulan demi bulan atau tahun demi tahun, karena ia selalu dirayakan berulang-ulang untuk mengenang masa-masa indah dan bahagia. Setiap ummat tentu memiliki hari raya yang selalu mereka rayakan pada saat-saat tertentu untuk mengenang masa indah yang pernah terjadi, demikian juga dengan umat Islam, Allah telah memberikan kepada kita dua hari raya yang selalu kita rayakan setiap tahunnya, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha.  Sedangkan Istilah Al Fithr pada dasarnya terkait erat dengan konsep kesucian pembawaan (Al Fithrah) dalam ajaran Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam untaian mutiara  kalam Nabi Muhammad SAW, yaitu :
Kullu Mauludin Yuuladu ‘alal Fitrah
“(setiap manusia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan  suci dan bersih)” (HR. Bukhori)

Konsep fitrah yaitu suatu pembawaan manusia berupa ajaran tauhid ketuhanan yaitu penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sehingga secara alami/natural manusia itu bersifat hanif (mencari yang benar/kebenaran). Maka dengan datangnya Idul Fitri  tahun ini sebenarnya merupakan momen yang tepat untuk merefleksikan diri (secara personal) tentang pembawaan diri kita yang fithrah dan hanif. Dari sini kemudian diharapkan akan tumbuh sikap instrospeksi secara obyektif sehingga gunungan karang-karang kedloliman yang telah menodai kefithrahan dapat tersucikan secara bersih. Tentu, untuk menggapai fithrah dan hanif tidak bisa terlepas dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadlan yang telah kita laksanakan kemarin.

Allahu Akbar 3x  Walillahilhamd
Hakikat Idul Fitri tidak terletak pada baju baru, tapi terutama pada JIWA YANG BARU. (laisalid bilibasin jadiid walakinnal ‘id alimanu tajid) Hakikat idul fitri adalah posisi di mana umat Islam dalam keadaan suci/bersih/baru. Seperti halnya saat kita memiliki baju/jas baru maka kita akan berusaha untuk menjaganya dari segala noda/kotoran. Demikian halnya dengan hakikat fitri yang tak lekang menjaga kesucian menjalankan nilai-nilai ibadah Ramadhan dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dari perbuatan munkarat/maksiat dan segala dosa. Banyak madrasah/pelajaran yang dapat dijumpai di bulan ramadhan ini yang dapat kita lestarikan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.

Bukankah bulan Ramadhan diibaratkan tanah yang subur, apapun benih yang ditebarkan di tanah yang subur akan menghasilkan panen yang bagus bahkan melimpah bagi petani yang menabur bibit tanamannya. Demikian pula umat manusia, khususnya umat muslim yang melaksanakan perintah-perintah Allah di bulan Ramadhan akan memetik pula kebajikan dan pahala dari Allah.

Sekurang-kurangnya Madrasah ibadah Ramadhan dapat kita jumpai ada tujuh nilai/pelajaran  yang dapat kita lestarikan dan praktekkan dalam kehidupan di dunia ini, yaitu: pertama, disiplin keimanan, kedua, disiplin kejujuran, ketiga, disiplin rasa syukur, keempat, disiplin waktu, kelima, disiplin membaca, keenam, disiplin berzakat, ketujuh, disiplin mempererat silaturrahim/persatuan dan kesatuan/berjamaah.

Pada kesempatan kali ini kita hanya membahas disiplin keimanan, dan disiplin kejujuran yang menjunjung tinggi semangat kemerdekaan dalam mengukir prestasi.

1. Disiplin Keimanan
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw. yang menyebutkan bahwa persyaratan untuk meraih kemenangan atau kesuksesan adalah jika umat Islam melandasi hidupnya dengan nilai-nilai keimanan. Diantaranya Allah Swt berfirman:

قد أفلح الؤمنون
“Sungguh telah sukses (menang) orang-orang beriman” (QS Al-Mu’minun: 1)

Ibadah puasa di bulan ramadhan juga disyaratkan dengan keimanan, sebab dalam beribadah meskipun tidak ada yang melihat saat berpuasa tetap menjaga keimanan kepada Allah. Allah Swt berfirman:
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ  
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah (2): 183)

Bahkan orang yang berpuasa dengan keimanan akan diampuni dosanya. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ مَا تَقَدَّمَ بِذَنْبِهِ
“Barangsiapa puasa pada bulan Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala Allah SWT, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

Pelajaran ini mengajarakan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita senantiasa menjaga disiplin keimanan di mana pun kita berada. Iman ibarat ikan yang ada dilaut meskipun air laut itu asin ikan tetap tidak asin. Demikian halnya dengan orang yang beriman meskipun dalam kehidupan sehari-hari --baik dikantor, rumah, pasar dan maupun diberbagai tempat lainnya-- banyak ujian/cobaan yang menggoyahkan keimanan, adanya tawaran pangkat, harta, tahta, wanita tetap tidak menyilaukan keimanannya kepada Allah Swt. Keimanannya senantiasa meningkat baik waktu senang maupun waktu dalam kesulitan ekonomi.

Oleh karena itu, disiplin keimanan memberikan ketangguhan dalam aqidah. Dengan Disiplin keimanan/taqwa seorang muslim akan selalu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan sunyi maupun ramai dan dimanapun dia berada. Karena itu disiplin keimanan mengantarkan setiap insan senantiasa menin gkatkan ketaqwaannya. Sebuah pepatah mengatakan: “Tarjunnajata wa lam tasluk masalikaha, fa inna safinata la tajri ala al-yabas” Terjemah bebasnya: “Anda menginginkan untuk menjadi seorang Muslim yang Islami, tapi tidak mau menempuh atau berprilaku seperti yang diinginkan Islam, tak obahnya seperti kapal/kereta api yang sudah keluar dari relnya”. Boleh jadi, karena tidak ada keimanan maka akan sesat atau keluar dari nur Allah Swt.

2. Disiplin Kejujuran
Menurut lembaga survey, 40% dari bupati/walikota di Indonesia terindikasi korupsi. Begitu juga dengan para pejabat lainnya, anggota DPR/DPRD, penegak hukum (hakim, jaksa, polisi), dan birokrasi, seolah berlomba ikut terlibat dalam jaringan korupsi; sehingga betapa sulit mencari pejabat Indonesia yang bukan koruptor. Lebih sulit lagi, mencari pejabat pemberantas korupsi yang steril dari korupsi. Sehingga, kejujuran terkesan sulit dapat kita jumpai di bumi pertiwi ini.

Kalau kita cermati Ramadhan ternyata mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung tinggi disiplin kejujuran, tidak korupsi/mengambil hak orang lain yang bukan hak kita. Ketika kita berpuasa Ramadhan, kejujuran mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengetahuinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau membohongi Allah swt dan tidak mau membohongi diri sendiri karena hal itu memang tidak mungkin, inilah kejujuran yang sesungguhnya.

Karena itu, setelah berpuasa sebulan Ramadhan semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya. Dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita sekarang ini, kejujuran merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Sebab, kejujuran disertai pengendalian hawa nafsu, sangat penting dalam pengembangan karakter bangsa dalam mengangkat harga diri bangsa.

3. Hakikat Kemerdekaan
Hakikat makna merdeka dapat dipahami dalam empat hal. Pertama, merdeka untuk hidup layak (keluar dari kemiskinan). Kedua, merdeka untuk mendapatkan pendidikan (lepas dari kebodohan). Ketiga, merdeka untuk hidup sehat. Dan keempat, merdeka untuk mendapatkan keadilan dan persamaan di depan hukum. Jika kita ingin merdeka untuk hidup layak hendaknya kita rajin bekerja dan rajin berzakat.  Jika kita ingin merdeka dari kebodohan rajinlah kita dengan banyak dan gemar membaca. Jika kita ingin hidup sehat tentunya hendaknya kita harus memiliki pola hidup yang sehat, berolah raga dan sebagainya. Demikian halnya jika kita ingin mendapatkan keadilan tentunya butuh perjuangan setiap individu dalam bertindak secara proporsional dan menegakkan kebenaran.

Bukankah bulan ramadhan telah mengajarkan agar kita merdeka, merdeka dari kebodohan dianjurkan untuk membaca baik al-qur’an maupun yang lainnya. Apalagi ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, di mana wahyu yang pertama kali diturunkan yaitu surat al-‘Alaq yang mengajarkan disiplin membaca (iqra’). Bahkan pada waktu-waktu senggang di bulan Ramadhan umat Islam sangat dianjurkan untuk membaca (tilawah/tadarrus) al-Qur’an.  Membaca dengan tilawah dan tadabbur (mengkaji) Al-Qur`an serta mendalami ajaran Islam lainnya, inipun namanya disiplin membaca.

Selepas ramadhan disiplin membaca dapat kita ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya membaca dan memahami kandungan isi al-Qur’an melainkan juga membaca ilmu pengetahuan secara umum.  Sehingga buta aksara dan buta huruf akan menjadi sirna, yang mencuat kecerdasan, kegemilangan Islam dan terbangun peradaban karena banyak membaca/mengkaji ilmu terus-menerus baik ilmu Syariah maupun ilmu umum. Jika umat Islam sekarang ingin sukses dan memenenangkan peradaban, maka mereka harus menguasai ilmu dengan belajar di setiap bidang ilmu.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
”… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Mujaadalah 11).

Demikian halnya jika kita ingin merdeka dari kemiskinan, bekerja menjadi suatu kewajiban, saat mendapatkan rizki tidak saying-sayang untuk bersedekah/berzakat. Bukankah ibadah puasa yang telah kita jalankan telah melatih kepekaan sosial yang pada gilirannya akan melahirkan kesetiakawanan sosial. Dengan ikut merasakan lapar dan dahaga kita mengerti bagaimana penderitaan orang-orang miskin, melalui penunaian bayar zakat fitrah. Pengalaman inilah yang akan mengetuk hati kita untuk hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri. Kewajiban bayar zakat lain pun bagi umat Islam ketika memiliki harta cukup nishab maka wajib mengeluarkan zakat harta (mal) tidak hanya dikeluarkan di bulan ramadhan, melainkan juga bisa ditunaikan pada bulan yang lainnya.

Sudah Fithrikah kita, ketika hidup berkecukupan sementara tetangga kita pendapatan hari ini mungkin tidak mencukupi untuk esok hari. Sudah Fithrikah kita ketika orang-orang di sekitar kita membutuhkan uluran tangan kita, sedangkan kita kadang-kadang acuh tak acuh dsb. Idul Fitri tidak hanya dipahami sekedar berbaju baru, makan ketupat dsb, karena hakekat Idul Fithri, yaitu menciptakan solidaritas serta cinta kasih dengan berzakat. Kalau itu sudah kita lakukan maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga semangat Ramadhan  atau semangat kemerdekaan bisa diteruskan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan.

MENGUKIR PRESTASI
Apalagi momentum Ramadhan ini seharusnya menjadi titik berangkat bagi kita untuk memperbaiki diri. Dan bagi para pemangku kebijakan yang diberi amanah oleh rakyat untuk mengurus negara, inilah saatnya meningkatkan pelayanan untuk rakyat. Sebab, kualitas (karakter) hati hasil tempaan di Ramadhan akan diuji setelah Ramadhan. Apakah selama 11 bulan ke depan kita bisa senantiasa menghadirkan Ramadhan di hati kita atau dalam kehidupan kita. Karena, Ramadhan adalah momen yang hanya terjadi setahun sekali guna menggapai prestasi yang diinginkan.

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah Puasa. Saat itu, presiden pertama RI Soekarno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 kala umat Islam sudah sembilan hari menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun 1364 Hijriah. Semangat dari proklamasi itu telah membakar puluhan juta rakyat Indonesia di seluruh negeri untuk bangkit melawan penjajah.

Di zaman Nabi Muhammad, sejumlah perang juga dimenangkan saat bulan Ramadhan. Di antaranya, Perang Badar Kubra, 17 Ramadhan 2 H/14 Maret 624 M. Pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) dan jatuhnya kota suci ini ke tangan kaum Muslim tanpa darah, juga terjadi pada bulan Ramadhan 8 H (630 M). Perang Tabuk juga pecah pada bulan Ramadhan tahun 9 H (631 M). Perang-perang lainnya di era pemerintahan Khulafaur Rasyiddin, serta era para khalifah setelahnya pun banyak terjadi pada bulan Ramadhan.

Andalus ditaklukkan pada 27 Ramadhan tahun 92 H ketika pasukan Islam yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad berhasil memasuki Andalus dari arah pesisir. Begitupun, pasukan Mongol dihancurkan oleh pasukan Muslim pimpinan Saifuddin Qutuz di Palestina pada bulan Ramadhan, tepatnya hari Jumat 15 Ramadhan 658 H.

Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Demikianlah, sejarah telah mencatat banyak peperangan dan kemenangan justru diraih oleh kaum Muslim sejak zaman Nabi Muhammad hingga generasi berikutnya pada bulan Ramadhan. Karena itu, dapat dipahami bahwa Ramadhan menjadi bulan dakwah dan jihad untuk membebaskan manusia dari cengkeraman keangkaramurkaan. Artinya, Ramadhan merupakan bulan perjuangan, tidak hanya untuk pribadi Muslimin, tapi juga untuk kehidupannya sebagai warga negara.

Manakala nilai keimanan, kejujuran dan semangat kemerdakaan bisa kita jalani dan kobarkan dengan sebaik-baiknya dalam aktivitas kita sehari-hari, tidaklah belebihan kalau Ramadhan itu dapat mewujudkan masyarakat yang Islami bahkan segala prestasi kebaikan dapat diraih. Kedamaian, kebersamaan, ketenangan dan keadilan akan menyelimuti seluruh umat manusia.
Pertanyaannya kemudian, mampukah kita mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang telah kita raih di Ramadhan? Apakah kita kembali lagi menjadi pecundang (loosers), orang yang kalah? Atau justru kita ternyata hanya menjadi seorang Ramadhani saja, yaitu orang yang mengingat Allah kala Ramadhan saja. Yang dapat menjawab adalah diri kita masing-masing. Semoga ada manfaatnya.


الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله  الحمد،
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.

Khutbah ke II
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. أشهمد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد البشر، اللهم صل وسلم على عبدك محمد الذي قد غفرت له ما تقدم من ذنبه وما تأخر، وعلى آله وصحبه البررة الأخيار. أما بعد:
فيا أيها الناس اتقوا الله تعالى يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم ذنوبكم والله ذو الفضل العظيم.

Kaum muslimin/muslimat, jama’ah shalat ‘Ied yang mulia! Marilah kita berdoa kepada Allah, dengan menundukkan kepala kita, mencoba membuka mata hati kita, kita bayangkan kita berada di hadapan Allah atau berada di depan ka’bah, membayangkan seolah-olah allah melihat kita, dan menengadahkan tangan kita, seraya memohon ampun kepada Allah Swt atas segala dosa dan maksiat yang telah kita perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja.

Ya Allah , Robbul Malaikati war Ruh, wa Robbul ‘Alamiin.
Kami bersaksi tiada Tuhan kecuali Engkau, tiada sekutu bagi Mu
Kamipun bersaksi Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-Mu
Ya Allah jadikanlah kami dalam golongan orang-orang yang bertaubat, orang–orang yang mensucikan diri, orang-orang yang meraih fitrah Islami.

Mudah-mudahan dihari yang fitri ini, Allah memaafkan semua kesalahan kita, Allah ampuni semua dosa kita, kesalahan kepada orang tua, kelauarga, tetangga, handai tolan dan dosa kepada Allah SWT karena kita pernah atau seing meninggalkan perintahnya, atau juga karena kita melanggar yang dilarangnya.

Bimbinglah kami untuk dapat melakukan silaturrahim, ringankanlah kaki kami untuk dapat saling berkunjung pada saudara, bantulah kami untuk dapat memaafkan kesalahan saudara kami, meskipun mereka telah menyakiti dan mendzolimi kami, berikan kemuliaan pada kami yang mau memulai meminta maaf dan ikhlas untuk memafkan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, أَلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات.
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Kampung Utan, 01 Syawal 1432H


[*] Khutbah ini disampaikan di Masjid Nurul Hikmah, Jl. Hikmah Legoso Indah Ciputat Timur, 01 Syawal 1432 H
**)Penulis, Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, Wakil Ketua Korp Muballigh Uswatun Hasanah, sebagai Konsultan Syariah di IMZ-Dompet Dhuafa Republika, Konsultan Zakat di Majalah Sharing dan situs eramuslim.com. Sebagai penulis buku: “Zakat dan Wirausaha” dan “24 Hours of Contemporary Zakat”. Hp. 08129563750

1 komentar:

Anonim mengatakan...

alhamdulillah trimakasih sebsar-besar nya, atas dimuatnya khotbah i'edul fitri,sehingga mempu menyentuh dan membangun kesadaran diri. Mohon idzin karena Allah untuk di copy.

olads