Jumat, 18 April 2008

MASJID MODERN

EVALUASI MANAJEMEN MASJID
BERBASIS BALANCED SCORCARD
Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA[1]

Evaluasi atau Pengukuran kinerja suatu manajemen masjid adalah sangat penting bagi pengelola masjid, guna mengevaluasi dan memperbaiki kesalahan dan mendesain perencanaan masa depan. Evaluasi atau pengendalian (control) juga merupakan salah satu fungsi manajemen masjid yang dapat menentukan keberhasilan atau melakukan pengukuran kinerja suatu organisasi masjid. Impelementasi evaluasi manajemen modern masjid (selanjutnya dikenal dengan istilah balance scorcard) secara komprehensif memberikan nilai tersendiri bagi pengelola masjid untuk dapat melakukan berbagai aktivitas masjid sesuai dengan fungsi masjid secara baik.
Istilah Balance Scorecard (selanjutnya disingkat BSC) bagi pengelolaan manajemen masjid mungkin terasa asing, sebab penerapan sistem ini awal mulanya dipergunakan dalam pengevaluasiaan manajemen sebuah perusahaan di dunia.
Itulah sebabnya, muncul pemikiran baru di dunia perusahaan, yang dipelopori oleh Kaplan (merupakan guru besar Ilmu Akuntansi dari Harvard Business School) dan Norton (merupakan konsultan dalam manajemen akuntansi dari Amerika.). Dalam buku karya mereka balanced-scorecard (1996) dikemukakan betapa pentingnya untuk melihat aspek-aspek (selain aspek finansial) yaitu non-financial guna proses balancing sebuah perusahaan, termasuk organisasi (masjid), sehingga manajemen modern perusahaan (masjid) dapat tercipta.
Awalnya evaluasi BSC diterapkan perusahaan kelas dunia untuk menggapai kesuksesan dalam mengelola perusahaan. Berdasarkan pengalaman banyak perusahaan kelas dunia yang mengimplementasikan BSC, diketahui bahwa terjadi perbaikan kinerja perusahaan dari tahun ke tahun. Demikian halnya dengan manajemen masjid, agar terjadi perbaikan kinerja pengelola dari tahun ke tahun diperlukan alat evaluasi manajemen modern masjid berbasis BSC. Karena itu, BSC memiliki posisi strategis bagi pengembangan manajemen masjid modern yang dibutuhkan oleh pengelola masjid saat ini di Indonesia.


Pengertian Balance Scorecard
Secara etimologi Balance Scorecard terdiri dari Balance yang berarti seimbang, kata balancing ternyata tidak hanya dipakai untuk menyeimbangkan roda mobil supaya nyaman dikendarai. Dalam roda organisasi (masjid) balancing juga diperlukan agar kendaraan atau wadah organisasi dapat berjalan mencapai tujuan yang dikehendaki tanpa goncangan dan melaju secara mulus, sehingga keseluruhan komponen masjid seperti pengurus, karyawan dan jamaah (stakeholder) merasakan aman dan tentram di dalam pengelolaan manajemen masjid. Sedangkan scorecard berarti ukuran kinerja, scorecard adalah ukuran kinerja kesuksesan manajemen masjid tidak hanya dilihat dari aspek finansial/ keuangan masjid saja, melainkan juga dari aspek keaktifan jamaah, aspek internal organisasi (idarah atau manajemen, ta’mir atau kegiatan, riayah atau pemeliharaan), dan aspek pertumbuhan dan perkembangan (melalui pembentukan value (nilai) dari keaktifan karyawan, penguasaan sistem informasi, dan pemberian motivasi).
Lebih jelasnya, balancing organisasi dapat dicermati dengan model yang sangat sederhana sebagai contoh; Seorang pemain akrobat menyeimbangkan diri untuk tidak jatuh ketika berjalan diatas tali. Apa yang dilakukan pemain akrobat tersebut agar sukses dalam penampilannya? Tentunya, berbagai upaya telah dilakukan pemain akrobat tersebut dengan latihan terus-menerus dan adanya komitmen. Upaya penyeimbangan tersebut tentu akan menyangkut pihak-pihak didalam dan diluar organisasi yang dijadikan tolak ukur guna mengimbangi score-card yang berdimensi aspek keuangan dan sebagainya.
Dengan demikian, dalam melakukan evaluasi BSC dapat dicermati dari keterlibatan seluruh komponen masjid --baik seluruh pengurus atau pengelola, karyawan masjid maupun keterlibatan jamaah masjid--, dalam melakukan upaya memakmurkan masjid. Kebersamaan seluruh komponen tersebut tentunya sangat berpengaruh dalam menentukan makmur atau tidaknya sebuah masjid dalam mencapai keberhasilan program kegiatan yang diharapkan secara bersama-sama.
Agar perencanaan dapat direalisasikan sesuai yang diinginkan, Abdurrasyad Saleh menjelaskan perlu adanya tahap dalam pengevaluasian terdiri beberapa langkah yaitu menetapkan standar, mengadakan pemeriksaan dan penelitian terhadap pelaksanaan manajemen masjid yang telah ditetapkan, membandingkan antara pelaksanaan tugas dengan standar, dan mengadakan tindakan-tindakan perbaikan atau pembetulan dengan diperkaya evaluasi berbasis BSC.
Secara terminologi, Sony menegaskan Balance Scorecard: “ Suatu alat sistem untuk memfokuskan organisasi (masjid), meningkatkan komunikasi antar tingkatan manjemen, menentukan tujuan organisasi dan memberikan umpan balik yang terus-menerus guna keputusan yang strategis .”
Dari uraian di atas maka, evaluasi berbasis BSC mencoba untuk menciptakan suatu gabungan penilaian atau pengukuran kinerja pengelola sebuah perusahaan atau organisasi termasuk masjid.

Tahap-tahap Evaluasi BSC
Untuk mengevaluasi manajemen masjid secara komprehensif, Kaplan dan Norton menjelakan evaluasi BSC dapat dicermati melalui berbagai pengukuran kinerja dari aspek finansial (keuangan), aspek customer (jamaah), aspek internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir; kegiatan, dan riayah; pemeliharaan), dan aspek pertumbuhan dan pembelajaran (karyawan, sistem informasi dan motivasi). Lebih jelasnya, 4 aspek perspektif tersebut yaitu :
1. Perspektif finansial (keuangan)
Evaluasi ini dapat diketahui dari aspek keuangan kas masjid, berapakah pendapatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan masjid tersebut? Bagaimana pengelola masjid berorientasi mendapatkan keuangan setiap periode yang halal dan baik secara mandiri maupun dari para donatur dari segi kuantitatif? Pada saat masjid melakukan pengukuran secara finansial, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi keberadaan sumber-sumber dana keuangan masjid dari mana saja sumber dana diraih? Apakah dari keuntungan bazar amal, penjualan kalender hijriah, sewa aula, hasil penjualan barang tak terpakai/rusak dan sebagainya? Apakah dari kotak amal di tempat umum: pom bensin, rumah makan, di toko, atau dari donatur tetap?
Kaplan menggolongkan ada tiga tahap perkembangan organisasi (masjid) dalam aspek keuangan yaitu; growth (pertumbuhan), sustain (menopang), dan harvest (memanen). Semakin baik manajemen masjid dengan multi variasi kegiatan dan transparansi dana akan meningkatkan sumber pendapatan keuangan masjid tersebut. Hal ini juga yang dapat membedakan antara masjid yang menerapkan manajemen tradisional dan modern. Sesuai dengan penerapan manajemen yang dipergunakan masing-masing, keuangan masjid dapat dilihat apakah masjid tersebut masih proses pertumbuhan (growth) yaitu di mana sumber dana belum jelas/ keuangan kas sering defisit, proses menopang (sustain) yaitu di mana sumber dana kas masjid tidak jelas/pasti atau belum ada donator tetap dan keuangan kadang defisit kadang surflus. Kedua proses ini termasuk kategori indikator menggunakan manajemen tradisional. Adapaun manajemen modern masjid biasanya pada posisi memanen (sustain) yaitu di mana sumber dana masjid sudah pasti dan jelas, memiliki banyak donator tetap, ada usaha mandiri pengurus dalam mendapatkan dana sehingga posisi keuangan senantiasa surflus.
Agar keuangan meningkat tiap tahun, perlu adanya upaya pendekatan personal dan kreativitas pengurus masjid mencari dari mana saja sumber dana masjid, dengan menciptakan multi kegiatan yang dibutuhkan anggota jamaah dan adanya transparansi dana akan meningkatkan trust (kepercayaan) jamaah terhadap pengurus, implikasinya dapat dibuktikan bahwa keuangan kas masjid akan semakin meningkat.
2. Perspektif customer (jamaah)
Evaluasi ini dapat dicermati dari keaktifan jamaah. Mengapa jamaah ada yang aktif dan pasif? Itu semua tergantung agenda kreativitas pengurus masjid. Bagaimana pengelola masjid menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dengan meramu berbagai kegiatan ta’mir masjid yang kreatif dan dibutuhkan oleh para customer (jamaah). Pengukuran keaktifan jamaah dapat dilihat dari keaktifan sholat berjamaah baik sholat wajib, sholat jum’at, sholat tarawih maupun sholat id. Dengan kata lain, perspektif ini mengidentifikasi bagaimana kondisi dan respon jamaah masjid terhadap pengelola sebuah masjid dan kegiatan ta’mir. Untuk mengetahui manajemen masjid juga dapat dilacak dari keaktifan pengurus membuat data base jamaah masjid berapa jumlah biodata anggota jamaah saat ini yang dimiliki masjid terdiri dari segi usia kaum bapak, ibu, remaja, anak-nak yang sudah bekerja/belum bekerja, menikah/belum menikah, hidup/meninggal.
Perspektif ini juga memperhatikan kepuasan jamaah (customer satisfaction) terhadap berbagai kegiatan atau manajemen masjid selama masa kepengurusan pengelola. Pengukuran terhadap tingkat kepuasan jamaah ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik diantaranya: survei melalui surat (pos), interview melalui telepon, atau personal interview maupun melalui kotak kritik dan saran
3. Perspektif internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir;kegiatan, riayah; pemeliharaan)
Evaluasi ini dapat dinilai dari aspek perspektif internal organisasi terdiri dari idarah; manajemen, ta’mir;kegiatan, dan riayah; pemeliharaan. Dari aspek ini dapat dilihat bagaimana pengelola masjid menerapkan manajemen masjid dan menjalankan program kegiatan ta’mir dan pemeliharaan agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Moh E. Ayub menjelaskan idarah (manajemen) ada dua bidang yaitu; pertama, idarah binail maadiy (Phisical Management) adalah manajemen secara fisik yang meliputi kepengurusan masjid, pembangunan fisik masjid, kebersihan, ketertiban dan keindahan masjid. Kedua, idarah Binail Ruhiy (Functional Management) adalah pengaturan tentang pelaksanaan fungsi masjid sebagai wadah pembinaan umat, sebagai pusat pembangunan umat dan kebudayaan Islam seperti dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Perspektif ini dapat mengavaluasi apakah pengelola masjid menerapkan manajemen secara baik. Dalam perspektif ini juga, manajemen masjid dapat dievaluasi melalui pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh pengelola masjid untuk menciptakan setiap kegiatan ta’mir dan pemeliharaan/riayah.
Semakin baik manajemen akan semakin banyak kegiatan yang kreatif dan inovatif yang dapat memberikan gambaran tersendiri terhadap tingkat kesungguhan, pendidikan pengelola dalam memanaje sebuah masjid. Untuk merubah paradigma manejemen yang tradisional menjadi profesional diperlukan adanya kerja sama dari seluruh komponen masjid yaitu jamaah dan karyawan, terutama pengurus DKM yang harus memiliki pola keterbukaan manajemen, adanya kerjasama dan bermusyawarah di mana saling menerima dan menghargai pendapat orang lain sehingga dapat menyusun dan melaksanakan berbagai kegiatan di samping pemeliharaan masjid sesuai apa yang dibutuhkan secara bersama baik oleh anggota jamaah, donatur maupun pengelola masjid.
4. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
Evaluasi ini dapat dicermati dalam perspektif pertumbuhan dan pembelajaran masjid yang meliputi bagaimana pengelola masjid dapat meningkatkan dan menciptakan value dalam organisasi masjid secara terus menerus, terutama tercipta interaksi hubungan yang baik antara pengelola dengan karyawan (merbot), menciptakan budaya organisasi masjid, memiliki sistem informasi yang mutakkhir, dan adanya pemberian motivasi dan pembelajaran kepada karyawan.
Jelasnya, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan masjid terbagi kepada 3 faktor utama, yaitu Orang (karyawan), Sistem (sistem informasi), dan Prosedur organisasi (Motivasi, Pemberdayaan dan Penyetaraan) yang berperan dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang terlaksana perencanaan masjid.
Dari penilaian evaluasi kinerja berbasis BSC, dapat ditarik benang merah betapa penting menggunakan evaluasi ini sebab dapat mengukur keberhasilan sebuah perencanaan dalam berbagai perspektif secara komprehensif. Terdiri dari empat persektif --yaitu perspektif keuangan, jamaah, internal organisasi, dan pembelajaran dan pertumbuhan oraganisasi masjid,-- yang menjadi sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan saat memberikan sebuah penilaian/pengevaluasian terhadap sebuah manajemen masjid. Keempat perspektif tersebut juga merupakan indikator kesuksesan pengelola dalam memanaje masjid yang saling melengkapi dan saling memiliki hubungan sebab akibat.

Penutup
Penerapan evaluasi BSC perlu tenaga super extra dari pengurus dengan memperbanyak kegiatan dalam memakmurkan masjid. Sebab, konsep ini membutuhkan suatu komitmen baik dari manajemen pengurus, jamaah maupun karyawan yang terlibat dalam organisasi masjid guna tercapai tujuan yang ditentukan. Evaluasi kinerja manajemen masjid berbasis BSC merupakan faktor yang amat penting bagi keberhasilan sebuah manajemen masjid. Oleh karena itu, sudah saatnya setiap masjid melakukan pembenahan diri dalam memperbaiki kinerja manajemen masjid melalui perbaikan-perbaikan dalam empat perspektif yaitu perspektif keuangan, jamaah (customer), internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir; kegiatan, dan riayah), dan pembelajaran dan pertumbuhan oraganisasi masjid (adanya value kemampuan karyawan (merbot), sistem informasi mutakkhir, dan pemberian motivasi dan pembelajaran kepada karyawan).
Dengan BSC para pengelola masjid setidak-tidaknya bisa mengukur potensi kelebihan, kelemahan, peluang dan hambatan dalam mengelola masjid menuju kepada perbaikan program dari tahun ke tahun, dengan kreativitas dan inovasi kegiatan sehingga dapat meningkatkan trust jamaah ditandai meningkatnya keuangan kas masjid, meningkatnya jumlah jamaah sholat wajib dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Semoga. Waallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 1996. The BSC: TranslatingStrategy into Actions. Boston, MA: Harvard Business School Press.
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 2004. Strategy Maps: Converting Intangible Assets into Tangible Outcomes,. Boston, MA: Harvard Business School Press.
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 2000.The Strategy Focused Organization:How BSC Companies Thrive in the New Business Environment. Boston, MA: Harvard Business School Press.
The BSC Institute http://www.balancedscorecard.org
Ahmad, Yani ,Drs, menuju masjid ideal, (Jakarta: LP2SI Haramai , 2001)
Ayub, Moh. E Drs Dkk, Manajemen masjid, (Jakarta: Gema insan press , 1996)
Yuwono, Sony, Petunjuk Praktis Penyusunan BSC: Menuju Organisasi yang Berfokus pada Strategi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004)
Zen, Muhammad Zakat & Wirausaha, (Jakarta: CED, 2005)
Saleh, Abdurrasyad, Manajemen dakwah, (Jakarta: Bulan bintang, 1977)

[1] Penulis, Dosen Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, dan Sekretaris Jendral Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UIN Jakarta

Tidak ada komentar: