Latest Movie :

kHUTBAH IDUL ADHA 1432 H


SEMANGAT IDUL ADHA
BAGI KEHIDUPAN SEHARI-HARI**)
Muhammad Zen, MA[*]

أللهُ أَكْبَر.  9x ولله الحمد.
الحمد لله الذى جعل الاعياد موسم الخيرات وامرنا بإصلاح معيستنا لنيل السعادة و رضاه أشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له خالق الارض والسموات.         
أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ عباد الله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى
Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ma’asyiral mu’slimin walmuslimat rahimakumullah !
Pada hari ini tanggal 10 Dzulhijjah 1432 H/06 Nopember 2011 umat Islam di seluruh penjuru dunia, dari Barat sampai ke Timur dari Utara sampai ke Selatan mengumandangkan Takbir, Tahlil dan Tahmid membesarkan lafadz asma Allah, dengan riang gembira dan berbahagia. Kegembiraan itu direfleksikan dengan syukur dan mengagungkan asma Allah. Allahu akbar 3 x

Spirit Allahu Akbar mengajarkan umat Islam bahwa hidup di dunia ini hanya Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Janganlah kita menuhankan harta, pangkat, popularitas, dsb. Karena yang menuhankan harta, pasti disiksa oleh hartanya. Yang menuhankan pangkat pasti menderita karena pangkatnya. Yang menuhankan jabatan pasti nelangsa karena jabatannya. Yang menuhankan popularitas pasti tersiksa dan diperbudak oleh popularitasnya. Agar bahagia, kuncinya adalah laa ilaha illallah. Selain Allah adalah makhluk.

Idul Adha hendaknya jangan dipahami hanya ritual ibadah qurban saja, melainkan memiliki makna yg penting dalam kehidupan sehari-hari. Makna ini perlu kita renungkan dalam-dalam dan selalu kita kaji ulang agar kita lulus dari berbagai cobaan Allah dan dapat mengamalkan semangat berkorban karena Allah Swt. Di antara pelajaran yang dapat kita petik dari idul adha yaitu pertama; semangat haji melalui persatuan dan persaudaraan; kedua; semangat berkorban karena Allah dan model mendidik anak sholih ala Ibrohim, ketiga; semangat Siti Hajar menjadi istri yang sholihah.

Allahu Akbar 3 x Walillahilhamd
Ma’asyiral mu’slimin walmuslimat rahimakumullah !

1. Semangat Haji: persatuan dan persaudaraan
Hari raya ini Umat Islam yang mampu menunaikan ibadah haji masih menunaikan manasik haji.  Jamaah Haji tersebut tentu datang dari berbagai penjuru dunia. Memenuhi panggilan Allah SWT. Bersahut-sahutan para jamaah haji melantunkan kalimat talbiyah:

Labbaik Allahumma labbaik, Labbaik laa syarikalaka labbaik.  Innal hamda wanni’mata laka wal mulk.  Laa syarii kalak!. 

Kupenuhi panggilan-Mu, ya Allah,  kupenuhi panggilan-Mu!  Kupenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu!  Sesungguhnya segala puji dan segala nikmat serta segala kekuasaan hanyalah milik-Mu!  Tiada sekutu bagi-Mu! 
   
Kaum muslimin rahimakumullah,
Hikmah disyariatkannya ibadah haji adalah agar kaum muslimin bisa mengambil berbagai manfaat di antaranya persatuan dan persaudaraan di mana saling mengenal antara kaum muslimin yang datang dari berbagai penjuru dunia di dalam ibadah haji. Pertemuan manusia dari berbagai tempat di suatu tempat menghasilkan manfaat saling kenal, meningkatkan ukhuwah Islamiyah,

2. Semangat Berkorban karena Allah SWT dan Model mendidik ala Ibrohim

Qurban merupakan wujud syukur kita kepada sang Pencipta. Berkurban juga berarti kita telah membantu saudara kita untuk kepentingan perkembangan fisik yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yaitu protein hewani.  Protein tersebut dapat dicermati melalui berkorban dengan daging kambing, sapi atau onta. Lain halnya dengan pelaksanaan zakat fitrah dilaksanakan untuk kepentingan perkembangan protein nabati melalui zakat fitrah.
Saudaraku yang dimulyakan Allah..
Saat kita berbicara korban akan teringat sejarah Nabi Ibrohim. Ketika usia Nabi Ibrahim sudah semakin tua (84 tahun), kerinduannya pada generasi penerus perjuangan menjadi semakin besar, dan ia pun harus berdo’a agar Allah SWT. menganugerahkan kepadanya keturunan yang shaleh. Beliau mengatakan dalam sebuah do’anya:
(رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ * الصافات: 100)
” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang shaleh”

Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim as tertambat kuat cinta kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim as dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴿١٠٢﴾

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.  (QS. Ash Shaaffat: 102 )

Dari kisah ini menunjukkan adanya model pendidikan ala Nabi Ibrohim yaitu dengan adanya komunikasi antara orang tua dan anak yang terbangun indah dalam berbagai situasi baik genting maupun dalam kondisi yang normal. Dari diskusi ini kemudian saat Nabi Ibrahim mau menyembelih anak tercintanya kemudian diganti oleh Allah dengan seekor kambing, sehingga ritual berkurban inilah menjadi ibadah bagi umat Nabi Muhammad Saw.

Kata kurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fiqih Islam dikenal dengan istilah udh-hiyah, sebagian ulama mengistilahkannya an-nahr sebagaimana yang dimaksud dalam QS Al-Kautsar (108): 2,

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah“

Sejarah qurban sebelum Nabi Ibrahim juga terjadi ketika Habil dan Qabil putera Nabi Adam As. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Maidah ayat 27 “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa”.

Oleh karena itu, pengertian korban bukan sekadar menyembelih binatang korban dan dagingnya kemudian disedekahkan kepada fakir miskin. Akan tetapi, secara filosofis, makna korban meliputi aspek yang lebih luas.

Dalam konteks sejarah, dimana umat Islam menghadapi berbagai cobaan, makna pengorbanan amat luas dan mendalam. Sejarah para nabi, misalnya Nabi Muhammad dan para sahabat yang berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini memerlukan pengorbanan. Sikap Nabi dan para sahabat itu ternyata harus dibayar dengan pengorbanan yang teramat berat yang diderita oleh Umat Islam di Mekah ketika itu. Umat Islam disiksa, ditindas, dan sederet tindakan keji lainnya dari kaum kafir Quraisy.   Rasulullah pernah ditimpuki dengan batu oleh penduduk Thaif, dianiaya oleh Ibnu Muith, ketika leher beliau dicekik dengan usus onta, Abu Lahab dan Abu Jahal memperlakukan beliau dengan kasar dan kejam. Para sahabat seperti Bilal ditindih dengan batu besar yang panas di tengah sengatan terik matahari siang, Yasir dibantai, dan seorang  ibu yang bernama Sumayyah, ditusuk kemaluan beliau dengan sebatang tombak.

Tak hanya itu, umat Islam di Mekah ketika itu juga diboikot untuk tidak mengadakan transaksi dagang. Akibatnya, bagaimana lapar dan menderitanya keluarga Rasulullah SAW. saat-saat diboikot oleh musyrikin Quraisy,  hingga beliau sekeluarga terpaksa memakan kulit kayu, daun-daun kering bahkan kulit-kulit sepatu bekas.

Jika ada yang mengatakan bahwa berkorban itu tidak mengenal bulan atau tahun, itu memang benar. Bahkan pengorbanan tidak mengenal hari. “Balon” pengorbanan semestinya “dipompa” setiap waktu. Apalagi cerita Nabi Ibrahim yang mau menyembelih anaknya, Nabi Ismail, sebagai korban. Peristiwa ini memang sangat mengesankan jika direnungkan secara seksama. Betapa seorang bapak rela melepas sesuatu yang paling mahal dalam hayatnya demi memenuhi sebuah seruan.

Demikian pula sikap yang ditampilkan oleh Hanzhalah, seorang sahabat Nabi saw. yang lebih dikenal dengan gelar ghasilul malaikah (orang yang dimandikan oleh malikat). Sahabat yang satu ini belum sempat mandi junub pada malam pengantin barunya. Ia langsung melompat keluar rumahnya begitu mendengar seruan jihad dari Rasul saw.. Untungnya, pria yang tampan itu gugur di medan tempur sebagai syahid, gelar yang sangat didamba-dambakannya. Jadi, manisnya berbulan madu (honey moon) terasa enteng dan sepele bagi orang-orang yang telah dekat dengan Tuhannya. Masih cukup banyak contoh-contoh yang dicatat oleh sejarah dari mereka yang siap mengorbankan apa saja demi kepentingan yang lebih mulia.

Dan Hari ini juga kita kembali di  ingatkan kepada kisah seorang kholilulloh kekasih Allah SWT,  nabi Ibrahim as yang Allah uji kecintaannya, antara cintanya kepada keluarga ( nabi Ismail as dan Siti hajar )  dan cintanya kepada Allah. Alhamdulillah cintanya kepada Allah melebihi dari segalanya, hal ini membuat kita bahkan nabi Muhammad SAW harus mengambil pelajaran darinya.

Allah berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

“Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”    (QS. Al Mumtahanah: 4)


Hal paling perioritas dari nilai-nilai pendidikan Ibrahim yang harus menjadi pola hari ini adalah bi’ah atau penciptaan lingkungan yang mendidik. Lingkungan pendidikan harus bebas dari virus aqidah dan akhlaq. Perlu suaka generasi (kawasan steril) buat perkembangan dan pertumbuhan setiap anak.

Rasulullah SAW telah memberikan rambu-rambu agar menghindari setiap orang atau lingkungan yang bisa berpengaruh negatif terhadap jiwa kita. Sebagaimana sabda beliau:
Iyyaaka waqariinassu’ fainnaka bihi tu’rafu "Hindari olehmu bergaul dengan orang jahat karena kamu akan dikenal dengan kejahatannya" (Al-hadits)

Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya uswah nabi Ibrohim  mendidik anak sholih hendaknya dapat kita praktekkan. Ada kesalahan kita orang tua dalam menilai keberhasilan anak-anak kita. Terkadang kita sangat bangga ketika anak kita meraih juara olimpiade sains atau menjadi siswa teladan dalam prestasi akademik. Namun kita jarang menghubungkan prestasi mereka dengan akhlaq dan kepribadiannya. Maka menjadi lumrah kita dapatkan, anak-anak cerdas secara intlektual dan skill tinggi tapi ibadah, akhlaq dan kepribadiannya sangat memprihatinkan. Sebab, anak didik kita hari ini adalah pemimpin bangsa di masa datang.

Kalau tidak diperhatikan pendidikan anak-anak kita akan menuju kepada kesursaman dan kesesatan. Sebab, kondisi generasi muda kita sekarang boleh dibilang cukup memprihatinkan. Kasus-kasus perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian/tawuran, pencurian, narkoba, AIDS, dan berbagai kasus kriminal lainnya adalah kasus-kasus yang banyak dilakukan oleh generasi muda kita. Nauudzubillah minzalik.

3. Meneladani Akhlak Siti Hajar sebagai Istri
Saat memasuki bulan Dzulhijjah, seluruh umat Islam pasti teringat dengan kisah Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar. Ada yang teringat dengan kisah anjuran berkurban bagi yang mampu. Ada yang teringat akan kepatuhan dan ketaatan Ismail as. terhadap ayahnya, Ibrahim as. Ada yang teringat akan kisah perjuangan Siti Hajar dengan Ismail as. saat ditinggal Ibrahim as. di Mekah, yang saat mereka di tinggal masih dalam kondisi lembah yang gersang dan ditumbuhi rerumputan. Siti hajar penuh dengan ketakutan.

Dari kisah singkat mengenai apa yang dirasakan Siti Hajar, adalah layak untuk para muslimah untuk meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Tiga perilaku Siti Hajar yang layak ditiru.
Pertama, taat kepada Allah. Siti Hajar sangat taat kepada Allah. Ketika ia tahu diminta untuk tinggal di lembah yang sangat gersang, ia tidak protes. Ia tahu bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya.

Kedua, sabar dalam berjuang. Lihatlah kehidupan Siti Hajar. Meski ia ditinggal suaminya, ia tetap berjuang untuk mencari makan dan minum anaknya. Meski hampir putus asa, namun ia tetap memiliki keyakinan bahwa Allah akan menolongnya. Inilah yang perlu ditiru. Meski suami sedang memiliki rezeki yang ‘seret’, janganlah berubah pandangan terhadapnya. Jangan pernah mencacinya.

Penderitaan yang mungkin kita alami belum ada apa-apanya dibandingkan penderitaan Siti Hajar. Karena itu, tetaplah mengasuh anak dengan baik seperti apa yang dilakukan Siti Hajar. Yakinkan diri bahwa Allah akan memberi rezeki. Allah tak akan membiarkan hambanya menderita.

Ketiga, tawakkal dan bersyukur setelah berusaha. Setelah taat kepada Allah dan sabar dalam berjuang, maka yang mesti dilakukan adalah tawakkal dan bersyukur. Lihatlah apa yang dilakukan Siti Hajar. Setelah ia lelah berbolak-balik dari Shafa ke Marwah tujuh kali, ia tawakkal kepada Allah. Ia pun mendekati anaknya dan yakin Allah akan menolongnya. Tawakkalnya berbuah manis. Ia melihat air di kaki anaknya, Ismail. Ia pun tak lupa bersyukur kepada Allah.

Penutup

Esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban saja, melainkan lebih dari itu, Pertama adanya ibadah haji hendaknya kita tingkatkan semangat persatuan, kesatuan dan persaudaraan baik sesama muslim maupun dengan non-muslim, Kedua adanya symbol berkorban yang dicontohkan kholilullah (kekasih Allah) nabi Ibrahim dan nabi Islamil dengan semangat kehambaan kehambaan yang kaffah kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga: meneladani akhlak siti hajar sebagai istri.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله  الحمد،
وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين.


Khutbah ke II
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا. أشهمد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد البشر، اللهم صل وسلم على عبدك محمد الذي قد غفرت له ما تقدم من ذنبه وما تأخر، وعلى آله وصحبه البررة الأخيار. أما بعد:
فيا أيها الناس اتقوا الله تعالى يجعل لكم فرقانا ويكفر عنكم سيئاتكم ويغفر لكم ذنوبكم والله ذو الفضل العظيم.

Kaum muslimin/muslimat, jama’ah shalat ‘Ied yang mulia! Marilah kita berdoa kepada Allah, dengan menundukkan kepala kita, mencoba membuka mata hati kita, kita bayangkan kita berada di hadapan Allah atau berada di depan ka’bah, membayangkan seolah-olah allah melihat kita, dan menengadahkan tangan kita, seraya memohon ampun kepada Allah Swt atas segala dosa dan maksiat yang telah kita perbuat baik sengaja maupun tidak sengaja.

Ya Allah , Robbul Malaikati war Ruh, wa Robbul ‘Alamiin.
Kami bersaksi tiada Tuhan kecuali Engkau, tiada sekutu bagi Mu
Kamipun bersaksi Muhammad SAW adalah hamba dan Rasul-Mu
Ya Allah jadikanlah kami dalam golongan orang-orang yang bertaubat, orang–orang yang mensucikan diri, dan termasuk orang yang beruntung.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari kesulitan ekonomi, bencana, wabah, perbuatan keji dan munkar serta melanggar aturan, serangan dan ancaman yang bermacam-macam, keganasan dan segala ujian, baik yang nampak maupun yang tersembunyi dari negara kami Indonesia khususnya dan negeri-negeri Islam pada umumnya. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.


Mudah-mudahan dihari yang mulya ini, Allah memaafkan semua kesalahan kita, Allah ampuni semua dosa kita, kesalahan kepada orang tua, kelauarga, tetangga, handai tolan dan dosa kepada Allah SWT karena kita pernah atau seing meninggalkan perintahnya, atau juga karena kita melanggar yang dilarangnya.

Bimbinglah kami untuk dapat mempraktekkan semangat idul adha dalam kehidupan sehari kami. Yang selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan agama, yang selalu membunuh sifat kebinatangan yang ada dalam diri ini, dan menjadi orang tua yang baik yang dapat membimbing anak2 kami menjadi anak2 yang sholih dan sholiha.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, أَلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات.
ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم. ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

Kampung Utan, 10 Dzulhijjah 1432H



[*] Khotib adalah Dosen FDK UIN Jakarta dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kec. Medan Satria Kota Bekasi
**)Disampaikah pada Khutbah Idul Adha 1432 H/06 Nopember 2011 di M.ASyifa Ciputat Cempaka Putih.
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KONSULTASI ZAKAT DAN EKONOMI ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger