Kamis, 08 Januari 2009

Outlook Bank Syariah 2009

Rubrik Khusus - Jumat, 02-01-2009
Oleh: Agustianto
Sumber: http://www.medanbisnisonline.com/rubrik.php?p=132206&more=1

SECARA umum krisis keuangan global belum secara signifikan memengaruhi kinerja perbankan nasional, di mana pertumbuhan pembiayaan (kredit) perbankan yang masih tinggi dengan tingkat pembiayaan (kredit) bermasalahnya yang masih terjaga di bawah 5%.

Jika suku bunga meningkat, maka ia akan menekan pertumbuhan DPK (termasuk aset) perbankan syariah, begitu pula sebaliknya jika suku bunga cenderung turun DPK bank syariah akan meningkat. Pada saat ini suku bunga cendrung menurun, maka DPK di tahun 2009 akan terus meningkat.
Pada tahun 2009, bank syariah di Indonesia diyakini akan terus tumbuh. Berkembangnya industri lembaga keuangan syariah ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas sistem keuangan nasional. Apalagi dengan pertumbuhan industri yang rata-rata mencapai 60% dalam lima tahun belakangan ini. Tentunya, berbagai upaya terus dilakukan agar pangsa pasar bank syariah terus meningkat. Untuk itu, IAEI dan MES serta asosiasi ekonomi syariah lainnya terus berjuang meningkatkan pertumbuhan bank syariah dengan berbagai program. Bank Indonesia selaku bank sentral telah memberikan peran dan komitmen yang luar biasa dalam pengembangan bank syariah.
Pada tahun 2009, implementasi Grand Strategy Public Education perbankan syariah akan dilaksanakan secara penuh oleh Bank Indonesia dan komponen ekonomi syariah, seperti IAEI, MES, ASBISINDO dan lain-lain. Karena itu bank syariah akan mengalami high growth di masa krisis global ini. Pada akhir tahun 2007 terjadi percepatan pertumbuhan terlihat mulai terjadi pada akhir tahun 2007 sampai dengan puncaknya bulan Agustus 2008. (Lihat tabel berikut) Tabel itu menunjukkan bahwa di masa krisis keuangan global terjadi percepatan pertumbuhan bak syariah secara signifikan.
Proyeksi Bank Syariah 2009
Bank Indonesia telah menyusun proyeksi pertumbuhan perbankan syariah nasional pada tahun 2009. Menurut proyeksi tersebut ada 3 skenario pertumbuhan bank syariah di masa depan.
Pertama, Skenario Proyeksi Pesimis
• Menurut skenario ini, pertumbuhan berlangsung secara organik diproyeksikan sebesar 25% dengan total aset Rp 57 triliun. Proyeksi pesimis ini didasarkan pada kondisi perlambatan makroekonomi akibat krisis ekonomi global. Meskipun demikian, tetap terjadi pertumbuhan, antara lain dikarenakan keberhasilan edukasi publik dan promosi perbankan yang dilakukan baik oleh Bank Indonesia sendiri, bank-bank syariah dan organisasi IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia).
Kedua, Skenario Proyeksi Moderat
• Menurut skenario kedua, pertumbuhan bank syariah diproyeksikan mencapai 37%, dengan total asset Rp 68 triliun. Proyeksi moderat ini didasarkan pada beberapa indikator. Pertama, terjadinya proses konversi beberapa UUS menjadi BUS. Pada tahun 2009 setidaknya lahir 9 bank umum syariah baru, sehingga nantinya jumlah total menjadi 12 bank umum syariah. Kelahiran bank umum ini dipastikan akan mendongkrak pertumbuhan bank syariah secara signifikan.
• Kedua, momentum krisis ekonomi global akan meningkatkan preferensi terhadap perbankan syariah, karena makin banyak umat yang tersadarkan akan keunggulan keunggulan bank syariah.
• Ketiga, UU No 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah sebagai kepastian hukum berhasil mendorong peningkatan kapasitas bank-bank syariah.
• Yang terakhir (keempat) ialah adanya multiplier effect positif akibat aktivvas politik (pemilu). Cukup banyak partai yang menawarkan program pembangunan ekonomi berdasarkan syariah.
Skenario Proyeksi Optimis
• Menurut skenario ketiga, pertumbuhan bank syariah diproyeksikan mencapai 75%, dengan total aset Rp 87 triliun. Angka proyeksi ini bukannya tidak mungkin jika kita melihat sejumlah indikator. Ingat, pada tahun 2004 perbankan syariah tumbuh 74%, sehinga dinilai sebagai era booming bank syariah pertama. Jadi jika untuk tahun 2009 diproyeklsikan tubuh 75% adalah sesuatu yang mungkin dan masih wajar. Proyeksi optimis ini didasarkan pada beberapa indikator. Pertama, berdirinya BUS baru dan konversi beberapa UUS menjadi BUS sebagaimana dipaparkan di atas. Dengan demikian, bank umum syariah tumbuh tiga kali lipat, dari hanya 3 buah menjadi 12 buah. Ditambah lagi sejumlah Unit Usaha Syariah.
• Kedua, sosialisasi dan edukasi makin luas. Mulai tahun 2009 sejumlah organisasi ekonomi Islam bersinergi untuk gerakan besar sosialisasi dan edukasi, IAEI dengan dukungan Bank Indonesia bekerja sama dengan sejumlah asosiasi, seperti MES (Masyarakat Ekonomi Syariah), ASBISINDO (Asosiasi Bank Islam Indonesia), FOSSEI dan PKES (Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah) bersatu menggelar banyak program edukasi yang bersifat nasional dan internasional.
• Ketiga, semakin banyak perguruan tinggi yang membuka program Studi Ekonomi Islam dan meluluskan sarjana ekonomi Islam, dan semakin banyak dosen ekonomi Islam yang menyebarkan ekonomi Islam. Selaijn itu, sejumlah ulama muda tamatan universitas Timur Tengah makin banyak kuliah S2 dan S3 ekonomi Islam, seperti di program pascasarjana Universitas Az-Zahra. Mereka akan menjadi da’i-dai yang cerdas tentang ilmu ekonomi dan perbankan Islam. Kehadiran mereka diperkirakan akan menggeser pandangan sempit masyarakat dan tokoh agama yang sering menyamakan bank syariah dengan bank konvensional. Ghirah dan semangat juang mereka demikan tinggi, karena mereka telah memahami secara ilmiah dan empiris betapa riba, gharar dan maysir menjadi puncak kehancuran ekonomi dunia dan Indoneaia.
• Keempat, dengan semakin besarnya aset perbankan syariah, maka biaya program promosi besar, sehingga pengetahuan masyarakat makin meningkat yang pada gilirannya mereka akan memilih bak syariah.
• Kelima, UU Perbankan Syariah & UU SBSN mendapat dukungan dari Amandemen UU Perpajakan sebagai kepastian hukum, berhasil mendorong peningkatan kapasitas bank-bank syariah melalui peran investor asing.
• Keenam, momentum krisis ekonomi global akan meningkatkan preferensi terhadap perbankan syariah dan dampak minimal dari gejolak pasar keuangan.
Dari tiga skenerio yang dikemukakan di atas, skenario yang paling mendekati kebenaran adalah skenerio moderat, yakni pertumbuhan 37%, dengan total aset Rp 68 triliun. Namun demikian, mungkin saja pertumbuhannya melebihi angka moderat tersebut. Karena kemungkinan itulah maka dibuat juga proyeksi pertumbuhan yang optimis, yakni pertumbuhan mencapai 75%, dengan total aset Rp 87 triliun.
(Penulis adalah Sekjen IAEI dan Dosen Pascasarjaa UI, Dosen S2 Trisakti dan S2 Universitas Paramadina)

RESOLUSI 2009: Outlook Kemanfaatan Anda

Oleh : Ali Sakti
Sumber : http://abiaqsa.blogspot.com/2008/12/resolusi-2009-outlook-kemanfaatan-anda.html

2008 baru beberapa jam berlalu di belakang kita, 2009 sudah ada di tangan, mau kemana? Hampir semua ekonom memperkirakan tahun ini merupakan tahun terberat dalam 10 tahun pertama abad 21, merujuk pada kondisi perekonomian dunia. Gelombang krisis ekonomi yang bermula di US akan "menampar" negara-negara lain dengan lebih sakit. Triwulan pertama 2009 merupakan ujian terberat bagi negara manapun. Indonesiapun masuk dalam perkiraan ini.

Dalam menatap 2009, banyak yang ingin kita ketahui, boleh jadi diantaranya perekonomian nasional dan kondisi perekonomian pribadi. Seperti apa kondisi ekonomi Indonesia pada masa mendatang, setidaknya satu tahun kedepan. Berdasarkan perkiraan beberapa ekonom, perekonomian Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan. perlambatan terjadi di sisi ekspor, konsumsi dan investasi. Oleh sebab itu, beberapa analis meminta insentif kebijakan dari pemerintah dalam meningkatkan sektor riil domestik, seperti berupa kebijakan pajak yang kondusif dan projek-projek infrastruktur yang mampu meredam penurunan investasi dan konsumsi.

Ukuran Kemanfaatan

Tetapi menggunakan kaca mata ekonomi syariah, pemandangan apa yang sepatutnya ada di depan kita mungkin tidak seperti yang telah diperkirakan. Pertama-tama mungkin ukuran kesuksesan ekonomi dulu yang kita ganti. Jangan gunakan standard yang selama ini anda gunakan dalam menilai ekonomi konvensional. Jangan gunkaan ukuran-ukuran bersifat fisik yang dimiliki ekonomi modern. Gunakan standard yang bersandar pada ukuran kemanfaatan.

Jika anda menggunakan standard konvensional, boleh jadi anda merasa bahwa tahun lalu mengalami kemajuan dalam hal kekayaan, pencapaian pribadi dan lain sebagainya. Tetapi menggunakan standard kemanfaatan (syariah), mungkin saja anda tidak maju kemana-mana, atau bahkan sebenarnya anda mundur terus kebelakang.

Seperti yang telah disebutkan di atas ukuran yang akan digunakan disini adalah "kemanfaatan", merujuk pada prinsip "manusia terbaik diantara kalian adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain" (Rasulullah Muhammad SAW). Prinsip ini tentu akan mengilhami penilaian dan pengukuran ekonomi baik pribadi maupun kolektif kita sebagai bangsa.

Kemanfaatan Ekonomi Individual

Dalam konteks pribadi, yang kemudian kita ingin perkirakan adalah seberapa manfaat anda secara ekonomi pada tahun 2009 ini. Dari kekayaan berupa uang tunai, ukurlah seberapa banyak pengeluaran anda berupa Zakat, infak, sedekah atau wakaf. Pada aspek sejenis, seberapa banyak hadiah yang anda keluarkan dalam meningkatkan jalinan ukhuwwah. Seberapa banyak pinjaman yang anda sudah keluarkan untuk membantu mereka yang tengah kesulitan, atau seberapa banyak utang anda akan berkurang pada tahun ini.

Dari kekayaan tetap yang anda miliki, berapa banyak mobil anda telah digunakan untuk membantu orang lain, seperti mengantar tetangga yang sakit, mengunjungi keluarga atau teman untuk silaturrahim, atau bentuk kemanfaatan lainnya. Jika anda punya tanah, rumah, motor, HP, Laptop, dan lain sebagainya, ukurlah kemanfaatannya bagi orang lain.

Sebagai lawan dari variabel-variabel positif itu, anda juga bisa mengukur, berapa tingkat utang anda, ketergantungan anda pada infak atau sedekah orang lain, atau bahkan dari zakat para muzakki. Selanjutnya anda juga bisa mengukur-ukur, berapa banyak harta atau kekayaan anda yang bertumpuk tanpa pernah digunakan, perhiasan, baju, kerudung, sajadah dan lain-lain.

Menggunakan standard konvensional seperti pendapatan (disposable income), boleh jadi posisi anda semakin membaik karena pendapatan anda semakin meningkat, tetapi dari sisi kemanfaatan mungkin anda "jalan di tempat", atau bahkan mengalami kemunduran, karena zakat, infak, sedekah anda semakin menurun atau karena utang anda semakin menggunung, sementara kekayaan menganggur anda semakin menumpuk.

Tahun 2009 ini seperti seperti apa rencana peningkatan kemanfaatan ekonomi diri anda? Sudahkan pengeluaran-pengeluaran berupa zakat, infak sedekah dan lain sebagainya telah masuk dalam resolusi anda, agenda dan pembukuan pribadi anda tahun ini? Meskipun mengukur kemanfaatan diri tidak sebatas ekonomi, tapi dapat saja diukur berdasarkan waktu, pikiran dan tenaga anda. Namun tulisan ini khusus membahas kemanfaatan ekonomi saja.

Kemanfaatan Ekonomi Kolektif

Kemanfaatan ekonomi kolektif pada dasarnya berangkat dari prilaku-prilaku individual yang mengedepankan ukuran kemanfaatan ekonomi. Dan prilaku-prilaku individual akan terakumulasi dalam prilaku kolektif, sehingga pengukuran kemanfaatan ekonomi kolektif mungkin dapat dilihat dari seberapa jauh efek prilaku individual tersebut. Misalnya seberapa jauh zakat, infak, sedekah mampu menurunkan angka-angka masalah sosial seperti kriminalitas, pelacuran, pengemis dan gelandangan.

Dengan demikian, kini lihat saja angka-angka kriminalitas, pelacuran, pengemis dan gelandangan, bagaimana perkiraan angkanya tahun 2009. Disamping itu, dapat saja ukurannya kemudian dispesifikkan dengan melihat data-data rasio dana sosial terutama zakat (karena bersifat wajib). Misalnya rasio zakat dengan muzzaki, rasio distribusi zakat dengan mustahik, rasio infak-sedekah dengan masyarakat golongan kaya, rasio wakaf dengan biaya sosial dan lain sebagainya.

Pada rasio akumulasi zakat dengan jumlah mustahik (masyarakat miskin), jika angka rasionya dibawah angka kebutuhan dasar rakyat (yang sepatutnya sama dengan Upah Minimum Regional), maka kemanfaatan ekonomi kolektif masih rendah, karena ekonomi belum memberikan jaminan pasti bagi setiap masyarakat agar terbebas dari permasalah dasar ekonomi. Sementara pada rasio zakat dengan muzakki, sepatutnya diketahui seberapa jauh masyarakat kaya menunaikan kewajiban ekonomi mereka

Akhirnya saya mengajak kepada saudara-saudara semua, juga diri saya khususnya, untuk meningkatkan kemanfaatan diri di tahun 2009 ini. Kalaupun anda tidak memiliki sumber daya ekonomi untuk dimanfaatkan orang lain, setidaknya anda punya waktu, pikiran dan tenaga.