Selasa, 07 April 2015

Kisah Inspiratif Muhammad Zen di Mata Keluarga dan Kawan

oleh Milva S Dwi Puteri

Sumber: http://kuliahtantan.blogspot.com/2015/04/milva-s-dwi-putripmi-4tugas-3life.html#more

Life History
Narasumber: Muhammad Zen, S.Ag, MA.
Pak Zen lahir di Bekasi pada 12 Januari 1978. Dia adalah putra ke empat dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Saman dan Hj. Masturoh. Ayah dan ibu Pak Zen dahulu adalah pedagang buah dan sayuran hingga sembako. Pasangan yang mempunyai tujuh orang anak ini sudah mulai berprofesi sebagai pedagang buah sayur, serta sembako dari sejak menikah hingga kelahiran anak bungsunya dan akhirnya sepulang haji kedua orang tua nya memutuskan untuk berjualan nasi uduk sampai dengan saat ini.

Pak Zen menyelesaikan sekolah dasarnya (Madrasah Ibtidaiyah) di pesantren MI Sullamul Istiqomah pada 1985-1991, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama (MTS) dan pendidikan menengah (MA) di sekolah yang sama yaitu Pesantren Sullamul Istiqomah hingga lulus pada tahun 1997. Kemudian beliau melanjutkan jenjang pendidikan Strata 1 dan Strata 2 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan sekarang beliau tengah mengejar gelar Doktor dalam bidang Ekonomi Islam di Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dari kecil Pak Zen memang seorang pejuang, dia adalah orang yang sangat gigih, saat SD beliau sudah belajar tentang arti kerja keras. Bahkan ia pernah memulung untuk menambah uang jajan nya, ia pernah berjualan kecil-kecilan hingga ia juga pernah menjadi penggembala kambing. Dia juga pernah menjadi penjual telur ayam, dengan modal awal lima belas ribu rupiah. Beliau menggali potensi yang ada dalam dirinya, hingga dagangannya berkembang menjadi dagangan sembako hingga di akhir masa pendidikan Madrasah Aliyah nya, beliau mampu mengumpulkan tabungan sejumlah dua juta rupiah. Setelah lulus dari MA Al Istiqomah, beliau sangat bertekad untuk melanjutkan studi nya ke jenjang strata satu, padahal saat itu orang tua beliau tidak mampu untuk membiayai kuliah yang akan di jalankan nya. Namun karena kegigihan dan kerja keras beliau, bermodalkan tabungan hasil dagangan yang beliau punya, beliau akhirnya kuliah. Beliau memutuskan untuk kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pak Zen merupakan orang yang terbilang beruntung, ia lahir dari ibu dan bapak yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama islam yang luhur. Hal ini terlihat dari semua saudaranya yang bersekolah di sekolah agama baik madarasah negeri atau swasta hingga ada juga yang bersekolah di pondok pesantren. "Pemahaman agama yang baik adalah pembentuk akhlak  yang  baik untuk anak" begitu lah kira-kira ringkasan ungkapan dari orang tua Pak Zen ketika saya wawancarai mereka beberapa hari yang lalu. Tidak hanya itu, orang tua Pak Zen juga memberikan contoh dan teladan yang sangat baik kepada anak-anaknya tentang arti hidup, arti bekerja keras, dan arti bersyukur. Menurut saya, Pak H. Saman dan ibu Hj. Masturoh memang orang tua yang patut dicontoh, meskipun dari sejak mulai berdagang hingga sekarang penghasilan mereka tidak begitu besar, namun mereka selalu merasa cukup atas apa yang dikaruniakan Tuhan terhadap hidup mereka, bahkan mereka bisa menabung sedikit demi sedikit hingga tabungannya pula yang menghantarkan keduanya ke Baitullah, Mekkah.
Ada cerita menarik saat saya mewawancarai ibu masturoh. sang ibu bercerita bahwa saat dia sedang berhaji, dia merasa mencium bau nasi uduk, kemudian dia menceritakan hal tersebut kepada Pak H. Saman (suaminya) hingga akhirnya sepulang dari haji mereka memutuskan untuk berjualan nasi uduk sampai dengan saat ini. " Mungkin ini hidayah " ujar ibu masturoh bercerita dengan penuh semangat kepada saya. Kenapa bisa dibilang hidayah? Karena dari hasil berjualan nasi uduk inilah mereka hidup dan menyekolahkan semua anaknya hingga semuanya lulus kuliah.
Di mata seorang pak H. Saman (Ayah kandung Pak Zen). Pak Zen adalah sosok anak yang patuh dan rajin. Pak Zen adalah anak yang penurut dan patuh terhadap kedua orang tua. Selain itu menurut pak Saman Pak Zen adalah anak yang unik. " Dulu kalo semua kakak adeknya Jen, pada nabung buat beli baju lebaran, Jen malah ngga beli baju tapi beli barang untuk dagang ", begitulah tutur pak Saman dengan nada tenang dan tegas nya.
Sejak remaja Pak Zen juga sudah menunjukkan jiwa entrepreneur nya, " Sejak kelas 1 MTS, Jen sudah mulai mau berdagang, padahal saya tidak pernah menyuruh Jen untuk berdagang " tutur ibu nya kepada saya. Dari ungkapan tersebut terlintas di benak saya bahwa Pak Zen memang seseorang yang pekerja keras sejak kecil maupun remaja. Di masa remaja Pak Zen juga merupakan anak yang cerdas, hal ini terbukti dari hasil belajar akademiknya yang bagus, punya jiwa sosial yang tinggi dan tidak pernah terlibat dalam kenakalan remaja di masa itu. " Alhamdulillah dari dulu Jen selalu dapat ranking " tutur ibu masturoh dengan senyum lebar diwajah nya, terlihat jelas oleh saya bahwa sang ibu sangat bangga terhadap anak-anaknya.
Di kalangan keluarga Pak Zen merupakan sosok yang murah senyum dan ceria. Kakek, nenek, paman, bibi, sepupu dan semua saudaranya menyenangi sosok Pak Zen. " Alhamdulillah semua anak-anak saya pada akur dan saling tolong menolong ", Lanjut Bapak Saman dan Ibu Masturoh kepada saya saat kami tengah mengobrol semakin jauh. Bahkan menurut orang tua nya,karena begitu dekat dengan orang tuanya hingga  ketika sakit Pak Zen tidak ingin ke dokter, tetapi lebih suka di urut oleh ibu nya.
Pak Zen juga merupakan adik sekaligus kakak yang sangat baik bagi seluruh saudaranya. " Dari kecil saya sangat dekat dengan Bang Jen, dia memang anak yang ngga neko-neko. Dia sangat patuh kepada kedua orang tua dan juga sangat sayang terhadap semua adek kakaknya ", ujar mbak Kiki (adik Pak Zen). Hubungan baik antara Pak Zen dengan kakak beserta adiknya terjalin sangat harmonis, ini tentunya merupakan hasil dari peran baik kedua orang tuanya dalam mendidik anak-anaknya hingga mereka mempunyai akhlakul karimah. Bahkan hingga Pak Zen telah mulai kuliah dan mulai mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dengan berceramah, dia tetaplah menjadi "Jen yang manis" dalam keluarganya. " Dulu waktu awal-awal jadi penceramah, Bang Jen kalau pulang pasti bagi hasilnya ke saya dan juga orang tua", ujar mbak Kiki yang begitu bersemangat menceritakan tentang kakak terdekatnya ini. Selain itu Pak Zen juga membantu keuangan kuliah adik-adiknya, hal ini membuktikan betapa besar rasa sayang Pak Zen terhadap saudara-saudaranya. " Ada cerita menarik, jadi dulu waktu Bang Jen dapat uang untuk penelitian, dia ngajak saya buat nemenin beli motor. Waktu kita nanya ke yang jual motor second, eh kita malah diketawain, karna nganggep kita ga bakal mampu beli itu motor. Tapi aku sama Bang Jen senyum-senyum saja, eh abis itu akhirnya sebelum lebaran Bang Jen malah kebeli motor yang baru". Begitulah ringkasnya cerita menarik yang dituturkan Mbak Kiki kepada saya. Dari tuturan mbak Kiki dapat kita ketahui juga bahwa Pak Zen sangat dekat dengan adiknya dan Pak Zen tidak pernah peduli akan omongan atau cemoohan orang.
Selain dari mbak Kiki, saya juga banyak mendapatkan cerita dari Bang Ali (kakak kandung Pak Zen). Menurut Bang Ali, Pak Zen adalah sosok yang tangguh, pekerja keras dan cerdas. " Zen itu kalo udah mau sesuatu pasti dia kejar sampe dapet." tegas Bang Ali saat kami bertemu di rumah kedua orang tua Pak Zen di daerah Bekasi. Bang Ali juga bercerita bahwa waktu awal lulus Madrasah Aliyah, Pak Zen pernah berpikir tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi karena terbentur masalah biaya. Namun, Bang Ali menasehatinya agar Pak Zen tetap melanjutkan kuliah, karena pendidikan lah yang akan mengubah nasib seseorang. " Meskipun teman-temanmu sudah bekerja dan menghasilkan uang dari sekarang dan kamu baru akan mulai kuliah, tapi suatu saat kamu akan dapat pekerjaan yang justru posisinya lebih baik daripada teman-temanmu yang tidak kuliah itu",  begitulah ringkasnya nasehat Bang Ali kepada Pak Zen di masa itu.
Begitu pula hal nya Pak Zen di mata teman-temannya. Menurut Pak Yadi ( teman Pak Zen dari TK hingga MA) Pak Zen adalah teman yang baik, dia anak yang patuh kepada kedua orang tua dan tidak pernah ikutan hal-hal yang tergolong melanggar aturan. Dulu Pak Zen juga termasuk anak yang aktif, dia bersama pak yadi aktif di pramuka saat di sekolah. " Dulu kalo pulang sekolah kami suka belajar bareng, jalan-jalan bareng, kadang juga kerumah temen, kadang ke Mall, dan juga ke toko buku walau hanya sekedar baca-baca saja", tutur  Pak Yadi sahabat Pak Zen sejak kecil ini. "Dia juga suka sama olahraga volley", lanjut Pak Yadi.
Menurut pak Yadi, dari dulu sampai sekarang pak zen tetaplah teman dekatnya. Meskipun sekarang kami jarang bertemu karena kesibukan masing-masing namun komunikasi di antara keduanya tetap berjalan lancar. Menurut Pak Yadi, karakter yang unik dari pak zen adalah "Dia orangnya punya prinsip dan ga pernah ikut-ikutan orang lain. Dan dia itu orangnya apa adanya", ujar Pak Yadi.
Pak Zen sekarang adalah suami dari Hj. Dede Mardiah yang merupakan salah satu putrid dari seorang pimpinan pesantren besar di daerah Banten. Mereka menikah pada 6 Mei 2009 tepatnya sekitar 4 tahun 11 bulan yang lalu. Mereka dikaruniai dua orang anak yang bernama  Najwa Hafizah Zen dan Averrus Alby Zen.
Pak Zen sekarang juga merupakan salah satu Dosen di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pak Zen sekarang bertempat tinggal di Jalan Jambu Rt 04 Rw 05 No.75 Cempaka Putih, Ciputat Timur. Pak Zen atau yang sering di dipanggil dengan sebutan Ustadz Zen selain mengajar juga meluaskan ruang dakwahnya dengan mengisi ceramah dan seminar di berbagai majelis taklim, stasiun tv, instansi pemerintah, instansi swasta, dan tempat lainnya. Pak Zen juga aktif menulis artikel di berbagai surat kabar cetak maupun online dan beliau juga aktif menulis buku terutama tentang Ekonomi Islam. Beberapa karya tulisnya yang cukup populer yaitu:
1.      Tesis: " Strategi Pemasaran Syariah pada Wirausaha Rumah Makan Wong Solo dalam Meningkatkan Kepuasan Konsumen ".
2.      " Menciptakan keadilan umat bagian II",  dimuat di koran Harian Umum Pelita edisi 24 Juni 1999.
3.      " Penyucian Jiwa ", dimuat di Koran Harian Umum Republika, edisi 3 September 2001.
4.      " Implementasi Manajemen The Eight Habit bagi Pengelola Masjid di Indonesia " , jurnal ta'mir masjid dmi provinsi DKI Jakarta.
5.      " Eksistensi Perbankan Syariah di Indonesia ", dimuat di Media Asa Edisi IX/ Th. IV/ 2001.
6.      Buku: " Kumpulan Sholawat", (Bekasi: Maceta, 2003).
7.      Buku " Zakat dan Wirausaha ", (Jakarta: CED, 2005).
8.      Buku: " 24 Hours Of  ContempoCrary Zakat ", (iputat: IMZ Dompet Duafa, 2011).
9.      Buku: "Problematika Remaja", ( Lebak: QE Press, 2013).
10.  DDII: " Rekonstruksi Isi dan Nilai-Nilai Dakwah di Indonesia ", dimuat di jurnal dakwah, kajian dakwah dan kemasyarakatan diterbitkan fakultas dakwah IAIN Jakarta (ISSN 1411-2779).
Nilai-Nilai yang Terkandung
Keyakinan
Dari pengalaman hidup Pak Zen banyak sekali nilai-nilai yang dapat kita ambil sebagai pelajaran. Salah satunya yaitu nilai keyakinan (agama). Orangtua Pak Zen memang merupakan orang-orang yang taat dalam agamanya, oleh karena itu nilai-nilai keyakinan yang baik pun juga terdapat dalam diri Pak Zen. Dari semua cerita di atas dapat kita ketahui bahwa Pak Zen merupakan orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang agama islam dan juga mempraktikan nilai-nilai islam tersebut ke dalam kehidupannya.
Sebegitu bagusnya nilai-nilai agama islam sebagai keyakinan yang melekat dalam dirinya, hingga iya menjadi orang yang sukses dalam berbagai bidang. Bukan hanya itu, nilai-nilai itu pula yang membentuk akhlak mulia dalam diri Pak Zen. Sifat kerja keras, gigih, pantang menyerah dan lainnya menyatu menjadi sebuah langkah konkret Pak Zen hingga menggapai suksesnya yang sekarang dan suksesnya di masa mendatang.
Pandangan dan Cita-Cita Hidup
Selain nilai-nilai keyakinan, terdapat pula nilai-nilai tentang pandangan dan cita-cita hidup dari Pak Zen yang tentunya menginspirasi banyak orang. Pak Zen orang yang berpandangan jauh ke depan, penuh perencanaan dan juga merupakan tipe pejuang. Pak Zen tidak terpuruk dengan keadaan keluarganya yang terbilang pas-pas-an dan bukan dari golongan atas, justru itu semua dijadikannya sebagai motivasi untuk menjadikan dirinya dan keluarganya semakin maju.
Pak Zen juga merupakan orang yang mempunyai cita-cita hidup yang mulia. Dari semua cerita di atas dapat kita lihat bahwa, setiap langkah dari hidup Pak Zen benar-benar menuju kea rah yang sangat baik. Dimulai dari langkah yang baik ( seperti: sekolah, ngaji, berdagang dengan jujur), hingga menghasilkan yang baik pula ( jadi pendakwah, dosen dan penulis buku islami ). Semua berjalan indah seiring dengan indahnya hidup yang telah ia lalui.
Ekonomi
Jika dipandang dari nilai-nilai ekonomi, sudah terlihat jelas bahwa Pak Zen merupakan sosok yang mandiri. Dilahirkan dari keluarga yang biasa saja membuat dia sadar bahwa ia harus berjuang untuk jadi orang luar biasa. Dari kecil memang jiwa entrepreneur Pak Zen sudah terlihat jelas. Dimulai dari berdagang telur ayam, menggembala kambing, hingga berdagang sembako pernah ia lakukan.
Keadaan ekonomi keluarga yang terbatas membuat Pak Zen rajin menabung, tentu menabung untuk bekal masa depannya. Dan terbukti uang tabungannya lah yang awalnya membantu mebukakan pintu masa depan yang baik yakni melewati gerbang kuliah yang awalnya hanya sebatas angan-angan baginya.
Sosial
Dalam bidang sosial, Pak Zen juga merupakan anak; teman; sahabat; suami; dosen, yang mempunyai nilai-nilai sosial yang tinggi. Pak Zen tidak pernah tinggi hati atas apapun yang telah diraihnya sekarang. Dia tetaplah seorang "Zen" yang rendah hati, ramah, murah senyum dan pekerja keras. Ia tidak pernah mengeluh terhadap apapun yang ia lalui dalam hidupnya, bahkan ia selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan anugerahkan untuk hidupnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya dia juga dikenal sebagai sosok yang baik dan ramah. Bahkan menurut cerita mbak Kiki (adik Pak Zen), dulu para tetangganya hanya melihat Pak Zen sebagai anak tukang nasi uduk, namun sekarang Pak Zen justru menjadi salah satu ustadz yang diundang dan mempunyai jadwal mengisi pengajian di masjid dekat rumahnya, itu tandanya sekarang Pak Zen adalah orang yang dihormati dan disegani di kampungnya.