Selasa, 29 September 2009

KHOTBAH IDUL FITRI 1430 H DI PONPES AL-FAUZAN JAKARTA SELATAN

TEMA: "HIKMAH RAMADHAN & LEBARAN"
Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA*)

أللهُ أَكْبَر. 9x
أَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا. وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا. وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لااله الا الله ولا نعبد الاايّاه مخلصين له الدين ولوكره الكافرون. لااله الا الله وحده, صدق وعده, ونصر عبده, وأعزّ جنده, وهزم الاحزاب وحده. لااله الا الله والله اكبر. الله اكبر ولله الحمد.
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرُ الصِّيَامِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَجَعَلَ عِيْدَ الْفِطْرِ ضِيَافَةً لِلصَّائِمِيْنَ وَفَرْحَةً لِلْمُتَّقِيْنَ و الحمد لله الذى امرنا بإصلاح معيستنا لنيل السعادة و رضاه أشهد أن لااله الا الله وحده لاشريك له خالق الارض والسموات. واشهد ان محمداعبده ورسوله. اللهمّ صلّ وسلم وبارك على سيّدالكائنات. نبيّنامحمد وعلى أله وصحبه اجمعيمن.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ عباد الله أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَخَابَ مَنْ طَغَى
قَالَ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَلَـوْ أَنَّ أَهْلَ اْلقُرَى ءَامَنُوْا واتَّــقَوا لَـفَتحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلكِن كَذَّبوُا فَأَخَذْناَهُمْ بمِا كَانوُا يَكْسِبُون.[الأعراف: 96] صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ. وقال النبى من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر (رواه البخارى)

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد!
Marilah kita bersyukur ke hadhirat Allah Swt. yang telah memberikan berbagai nikmatnya, sehingga pada pagi hari yang cerah ini kita bersama dapat duduk bersimpuh mengucapkan takbir, tahmid, tasbih, dan tahlil sebagai perwujudan dari rasa syukur kita menyelesaikan ibadah shaum di bulan suci Ramadhan 1430 H. Dan hari ini kita memasuki hari kemenangan yang penuh dengan kebahagiaan disamping sebagai bentuk syukur atas nikmat dan karunianya bisa berjumpa lagi dengan idul fitri, sejalan dengan firman-Nya pada QS. Al-Baqarah ayat 185:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: .. وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُ اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ. {البقرة : 185}.
“…Dan hendaknya kamu mencukupkan bilangannya dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, niscaya kamu bersyukur”. (QS. Al-Baqarah: 185).
Shalawat dan salam mari kita selalu sanjungkan kepada Nabi akhir zaman, pembawa amanat Ilahi, teladan bagi manusia, Nabi besar Muhammad Saw. dengan harapan semoga kita semua, kaum muslimin dan muslimat, pada hari akhir nanti mendapatkan syafaat dari baginda Rasulullah Saw.

Allahu akbar 3X
Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah

Kita tidak tahu apakah tahun depan kita akan berjumpa kembali dengan puasa ramadhan dan lebaran. Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal, apakah hari ini, esok hari, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau tahun-tahun berikutnya. Sebab Allah menegaskan (QS. Yunus (10): 49)
 •            
49. Tiap-tiap umat mempunyai ajal apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).
Oleh karenanya marilah bersama-sama kita tingkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mohon ampun kepada Allah dan memaafkan kerabat kita, saudara kita dan lainnya, meskipun mereka pernah menyinggung perasaan kita atau samapi menyakiti kita. Allah adalah maha Pengampun, oleh karenanya sudah sepatutnya kita sebagai hamba Allah untuk saling memaafkan terhadap sesama manusia terutama saudara, handai taulan, tetangga dan sebagainya.

Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah
Banyak hikmah yang dapat kita dapatkan dari madrasah ramadhan dan Lebaran
Pertama. Mudik: Jalin kerjasama-persatuan dan kesatuan
Idul Fitri merupakan momen yang selalu ditunggu umat Islam yang telah menjalankan puasa. Arti Idul Fitri sepenuhnya ditentukan oleh puasa yang telah dilakukan selama sebulan penuh itu. Makin baik puasanya, makin bermakna Idul Fitri yang dirayakan. Idul Fitri adalah simbol kemenangan umat Islam dari pertempuran besar melawan hawa nafsu. Bahkan tak jarang idul fitri dimaknai sebagai bulan mudik.
Pepatah mengatakan: “Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya akan kembali ke sarangnya”. Hal ini terasa sekali pada saat menjelang hari raya Idulfitri (Lebaran), dimana banyak sekali orang Mudik ke kampung halamannya masing-masing. Kata Mudik diserap dari kata “Udik” yang berarti desa atau jauh dari kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita dilahirkan. Jadi, mudik juga berasal dari frasa “menuju udik” selain bisa bermakna kembali ke kampung halaman kita juga berarti kembali ke asal (hulu).
Kaum Muslimin-Muslimat yang Berbahagia
Ternyata ritual mudik bukan hanya milik manusia saja. Banyak jenis satwa yang melakukan ritual mudik, terutama untuk golongan ikan (pisces) dan burung (aves). Yang paling fenomenal adalah mudiknya ikan salmon atlantik. Mereka rutin melakukan migrasi ke tempat kelahirannya meski mengarungi berbagai rintangan dan seringnya berujung pada kematian. Satu-satunya motif mudik berbagai satwa tersebut adalah insting untuk mempertahankan kelangsungan populasi mereka dan berjumpa dengan yang lainnya.
Mudik kental dengan silatuurahim. Simbol ini memberikan pengertian bahwa diharapkan setiap diri ini untuk menjaga persatuan dan mengunjungi sanak famili baik jauh maupun dekat sebagai simbolisasi silaturrahmi.
Bukan kah rasul bersabda:
صلة الرحيم تزيد الرزق والعمر
من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فاليصل رحمه
Mudah-mudahan lepas dari ramadhan ini dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa melalui silaturahmi di mana pun kita berada dan saling memaafkan. Agar kita tergolong orang-orang yang bahagia yaitu tergolong al-faizun atau al-muflihun.
Apalagi kita berasal dari rahim ibu kita, di situlah titik temu kasih sayang antara kita dan saudara-saudara kita dengan silaturahim, mengunjungi saudara kita baik yang dekat maupun yang jauh, yang dapat menghubungkan kembali ikatan kekeluargaan dan kasih sayang. Lebih jauh lagi, mudik juga bisa membantu kita untuk memahami makna keberadaan kita sebagai manusia dari mana kita berasal dan kembali ke mana juga kita nanti? Yaitu mudik ke alam akhirat. Sehingga dibutuhkan banyak bekal nanti dengan amal sholih dan kebajikan.
Allahu akbar 3X
Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah
Pada pagi hari ini Allah menghalalkan kita makan dan mengharamkan puasa. Sebab seluruh umat Islam telah melaksanakan puasa sebulan penuh. Sebulan penuh kita menahan diri dari lapar dan haus. Sebulan penuh kita menghindari perbuatan keji dan munkar. Dengan demikian saat berbicara lebaran tidak akan lepas dari pembahasan bulan ramadhan.

Kedua; Meningkatkan Ketaqwaan
Keimanan dan bertaqwa kepada Allah tak lain dari tujuan puasa dan lebaran. QS. Al-Baqarah: 183:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Selepas ramadhan perlu kita renungkan bersama? Apakah dapat meningkatkan keimanan atau justru sebaliknya keimanan semakin melemah. Allah menegaskan orang yang beriman dan suci dirinya termasuk kategori orang beruntung. (QS. Asy-Syams:9-10)
         
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Sebab puasa melatih orang untuk mensucikan jiwanya dengan simbolisasi kejujuran dan kedisiplinan, saat berpuasa. Bahkan akan menyebabkan setiap yang berpuasa menjadi sehat sebagaimana sabda rasul: suumuu tasikhuu.
Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah
Ketiga; Zakat/sedekah sebagai ibadah sosial
Ada pelajaran lain yang dapat kita petik, yaitu kewajiban membayar zakat mengajarkan kita untuk meningkatkan solideritas antar sesama, membantu kepyang ada kaum papa. Zakat terbagi menjadi dua yaitu zakat mal dan fitrah. Zakat mal pelaksanaan tidak hanya di bulan ramadhan boleh dibulan lainnya. Lain halnya zakat fitrah pelaksanaan hanya pada bulan ramadhan. Zakat fitrah merupakan kewajiban setiap insan baik merdeka maupun budak laki-laki atau perempuan dengan keterangan rasul bahwa orang yang menunaikan sebelum id diitung sebagai zakat fitah yang diterima dan setelah id dihitung sebagai sedekah biasa
من اداها قبل الصلاة وهي زكاة مقبولة ومن اداها بعد الصلاة وهي صدقة من الصدقات ((رواه البخارى)

Keempat; Anjuran 6 hari Puasa Sawal: satu tahun pahala
Oleh karena itu, Rasul sangat menganjurkan kepada kita setelah ramadhan untuk melangkapi puasa ramadhan ini dengan puasa di bulan syawal sebanyak enam hari.
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فكأنما صام الدهر (رواه البخارى)
Barang siapa yang puasa di bulan romadhan (penuh) kemudian meneruskannya dengan puasa syawal enam hari bagaikan puasa satu tahun lamanya. (HR. Bukhori)
Ahli matamatika mengalikan setiap hari dengan 10 kali lipat, sebab ibadah di bulan ramahan akan diganjar oleh Allah sepuluh kali lipat. Dengan demikian puasa ramadhan (30 hari) ditambah enam hari jadi 36 dikali sepuluh berarti 360 hari. Bukankah jumlah hari dalam setahun 356 hari.

Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah
Kelima; Simbol puasa dan baju baru: menjaga kesucian
Saat berbicara puasa, akan mengantarkan kita mencermati Filosopi Tumbuhan dan Hewan berpuasa, kenapa Tumbuhan dan hewan juga berpuasa?
Tumbuhan puasa saat ingin menggugurkan daunnya, contoh : pohon mangga, pohon jati.

Ular berpuasa saat ingin mengganti kulit menjadi kulit baru, ulat berpuasa saat membuat kepompong menuju menjadi wajah baru (kupu-kupu), ayam berpuasa saat mengerami telurnya agar dapat menetaskan anaknya.
Perlu adanya perenungan bersama, ayam saat mengerami telur akan berbuah hasil yang baik dengan menetasnya anak ayam dan tidak dapat hasil yang baik dengan menjadi telur busuk/tembuhuk.
Melaksanakan ibadah Puasa juga ternyata dapat menghasilkan dua hasil, bagi yang menjalani ibadah puasa dengan keimanan dan keihlasan akan membuahkan hasil yang baik bagaikan anak ayam/ pitik yang suci bersih sebab akan menghadapi hari bahagia idul fitri (kembali suci). Lain halnya mereka yang berpuasa tidak dengan keimanan hanya mengharap pujian akan membuahkan hasil yang tidak baik menjadi telur busuk dan tidak menjadi fitrah.
Hadirnya lebaran memberikan kemenangan seluruh umat Islam diseluruh dunia. Di Indonesia saat berlebaran perlu kita cermati mengapa lebaran identik dengan baju baru? Bukankah ada makalah yang menyatakan:
ليس العيد بلباس جديد ولكن العيد الايمان تزيد
Berlebaran tidak dengan hanya dengan baju baru melainkan keimanan bertambah
Namun demikian kenapa ada istilah baju baru? Pertanyaannya apakah symbol baju ada pada masa rasulullah? Berdasarkan keterangan dikitab shohih bukori karya imam bukhori bahwa pernah suatu ketika Umar memberikan hadiah ke rasul baju baru tujuannya agar rasul dapat mengenakannya saat hutbah id dan menyambut para tamu yang dating, namun rasul tidak menerimanya. Mengapa? Berdasarkan keterangan ahli hadis karena baju tersebut tersebut terbuat dari sutra.
Dengan demikian bahwa tradisi lebaran dengan baju baru merupakan simbolisasi kesucian, sebab baju baru terbebas dari noda dan kotor, demikian orang yang mengenakannya akan berusaha menjaga pakaian itu agar tetap bersih dan tidak terkena noda. Lebaran ada tradisi ketupat, berdasarkan informasi dari Prof. KH. Ali Mustofa Ya’qub bahwa ketupat merupakkan tradisi yang ada di Indonesia saja. Orang jawa sering menyebut ketupat dengan kupat yang berarti mengeku bersalah. Sebab pada hari lebaran salaing memberi maaf. Minal aidin wal faidzin. Di samping ketupat merupakan symbol persatuan tandanya dengan adanya ikatan dari dua daun kelapa.
Hadirin Jama’ah ‘Iedul Fitri Rahimakumullah
Kesimpulan yang dapat diambil dari khutbah kali ini adalah meskipun kita sudah ditinggalkan bulan puasa dan merayakan lebaran hendaknya kita senantiasa menjaga kualitas keimanan kita, melatih kesabaran, dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menyambung tali silaturrahmi pada akhirnya akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang penuh kedamaian dan ketenangan saat merayakan hari raya idul fitri . Orang yang benar-benar beriman akan menjaga persatuan dan kesatuan bahkan memperoleh kemenangan dan memperoleh ketenangan dan kedamaian. Sesuai ungkapan makalah; “Al-Qaani’u Ghoniyyun Wain Kaana Jaaian, Wal hariitsu Fakiirun Wain Kaana Malikaddunya” (Orang yang merasa cukup atas pemberian Allah --tenang jiwanya-- meskipun perutnya lapar, dan orang yang serakah -- merasa tidak puas dan tidak tenang jiwanya-- meskipun memiliki kekayaan dunia).

Kaum Muslimin-Muslimat yang Berbahagia

Semoga. Waallahu A’lam.

Hutbah Kedua:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
أللهُ أَكْبَر. 7xاَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَلاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ: أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Saudaraku, jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah
Semoga Allah menerima segala amal ibadah yang kita lakukan, dan mudah-mudahan kita semuanya termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bertaqwa. Mari kita berdo’a dan memohon kepada Allah SWT.
Allahumma ya Allah, ya Tuhan kami. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami, kesalahan dan dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami dan saudara-saudara kami kaum muslimin dan muslimat semua, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.
Ya Allah Yang menyelamatkan Nuh dari taufan badai dan banjir yang menenggelamkan dunia, Yang menyelamatkan Ibrahim dari kobaran api menyala, Yang menyelamatkan Isa dari salib kaum durjana, Yang menyelamatkan Yunus dari gelapnya perut ikan, Yang menyelamatkan Nabi Muhammad dari makar kafir Quraisy, Yahudi pendusta, munafik pengkhianat, pasukan ahzab angkara murka… Laa ilaaha illa anta subhanaka innaa kunnaa minadhdhaalimiin...3X
Ya Allah, gantikanlah kepedihan dan kesedihan ini dengan kesenangan, sirnakanlah rasa takut menjadi rasa tentram, dan rasa cemas menjadi penuh harapan. Ya Allah, dinginkan panasnya hati ini dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
Ya Allah, ya rahman ya rahim!
Tuhan Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang, Yang kasih dan sayangnya tiada terbilang, di tengah kesibukan kami melakukan rutinitas kerja mengejar duniawi, di tengah kepanikan kami menghadapi sulitnya mendapat rizki dan ditengah kami menghawatirkan stamina dan kesehatan kami, serta ditengah kegalauan kami dan ketidak siapan kami saat menghadapi ajal kematian.
Bimbinglah kami untuk dapat melakukan silaturrahim, ringankanlah kaki kami untuk dapat saling berkunjung pada saudara, bantulah kami untuk dapat memaafkan kesalahan saudara kami, meskipun mereka telah menyakiti dan mendzolimi kami, berikan kemuliaan pada kami yang mau memulai meminta maaf dan ikhlas untuk memafkan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, أَلأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْغَلاَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْقَحْطَ وَالْوَبَاءَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَاْلأَمْرَاضَ وَالْمِحَنَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, مِنْ بَلَدِ اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةْ وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةْ, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْر. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلاًّ ِللَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّّارْ. يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك 3x
Kampung Utan, 20 September 2009

Sabtu, 19 September 2009

IDUL FITRI

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika


Mengawali tulisan ini marilah sejenak kita merenung filosopi hewan yaitu ayam betina, saat mengerami semua telurnya dengan waktu yang sama bahkan dipanaskan juga pada suhu yang sama ternyata telur memiliki dua hasil. Pertama; telur tersebut akan berbuah hasil yang baik jika dengan menetasnya anak ayam dan kedua; tidak dapat hasil yang baik dengan menjadi telur busuk/tembuhuk.

Idul Fitri tak bisa lepas dari ibadah puasa di bulan Ramadhan. Melaksanakan ibadah Puasa juga ternyata dapat menghasilkan dua hasil, bagi yang menjalani puasa dengan keimanan, ketakwaan dan keihlasan akan membuahkan hasil yang baik bagaikan anak ayam –pitik-- yang suci bersih sebab mereka mendapatkan limpahan pahala dan ampunan dari Allh Swt sehingga mereka bahagia saat idul fitri (kembali suci). Lain halnya mereka yang berpuasa tidak dengan keimanan hanya mengharap ria/pujian akan membuahkan hasil yang tidak baik menjadi telur busuk dan tidak menjadi fitrah.
Minal ‘âidîn wa al fâidzîn taqbbalallâhu minnâ wa minkum merupakan ungkapan yang kerapkali dipergunakan oleh umat Islam di belahan dunia ini sebagai tanda ucap kegembiraan dan do’a atas kembali seorang mu’min kepada fitrahnya, setelah berpuasa–selama sebulan penuh–di bulan Ramadhan.

Hari kemenangan (berlebaran) atau yang lebih dikenal sebagai hari raya Idul Fitri, bagi kaum muslimin merupakan saat-saat yang indah dan waktu yang sangat dinanti-nantikan, waktu yang dipergunakan semaksimal mungkin untuk berkreasi menghilangkan kepenatan bersama keluarga yang biasanya pada bulan lainnya dipakai untuk melaksanakan rutinitas pekerjaan.

Ternyata, idul fitri dipergunakan dengan sebaik-baiknya, bertemu bersilaturrahim dengan sanak famili baik yang dekat maupun yang jauh, handai taulan dan tetangga untuk mempererat persaudaraan berjabat tangan dan saling bermaaf-maafan. Bahkan, tak luput sebagai ucap syukur nikmat, umat Islam saat merayakan hari kemenangan mereka menyediakan hidangan yang cukup meriah. Suguhan beraneka ragam jenis makanan dan minuman dengan mudah kita jumpai di pelbagai setiap rumah-rumah muslim yang dipersiapkan untuk kalangan keluarga sendiri, di samping handai taulan, tetangga dan para tamu dalam memeriahkan suasana berlebaran. Saling bermaaf-maafan dan bersilaturrahim. Beratribut serba baru yang kita sandangkan; baju baru, sepatu baru, celana baru, dan semuanya serba baru. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana model lebaran Rasul apakah dengan simbol-simbol yang baru itu?

Marilah kita simak sirah nabawiyah rasul saat berlebaran berdasarkan hadis Shohih Bukhori. Pada saat hari Raya 'Idul Fitri, Nabi Saw mengenakan pakaian terbaiknya dan makan kurma -dengan bilangan ganjil tiga, lima atau tujuh- sebelum pergi melaksanakan shalat 'Idul fitri.

Dari Abdullah bin Umar bahwa Umar ra. mengambil sebuah jubah dari sutera yang dijual di pasar maka dia bawa kepada Rasulullah Saw, lalu Umar ra. berkata: “Wahai Rasulullah, belilah ini dan berhiaslah dengan pakaian ini untuk hari raya dan menyambut utusan-utusan.” Rasulullah Saw menjawab: “Ini adalah pakaian orang yang tidak akan dapat bagian (di akhirat)….” (HR. Al-Bukhari Kitabul Jum’ah Bab Fil ‘Idain wat Tajammul fihi dan Muslim Kitab Libas Waz Zinah)

Dalam keterangan lain juga disebutkan yaitu dalam kitab Al-Mughni karangan Ibn Qudamah al-Maqdisi menjelaskan, “Sahabat Abdullah bin ‘Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw mandi pada hari lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah itu Nabi saw juga tampaknya memakai pakaian yang baru, begitu pula para sahabat”.

Ibnu Rajab berkata: “Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berhias untuk hari raya dan bahwa ini perkara yang biasa diantara mereka.” (Fathul Bari) Sebagian ulama menjelaskan diperbolehkannnya membeli baju baru saat lebaran bagi mereka yang punya dan ingin.

Jadi, tampaknya berhias dengan memakai baju baru dan wangi-wangian sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi. Bahkan Nabi sendiri yang menganjurkan untuk memakai wangi-wangian. Menjadi suatu hal yang wajar, mengingat shalat hari raya itu berarti akan bercampur dengan orang banyak, sehingga seyogyanya kita tidak membawa bau-bau yang tidak sedap. Sunnah Nabi Saw ini kemudian mengental menjadi tradisi di kalangan umat Islam seluruh dunia di mana pada hari raya mereka berpakaian serba baru dan memakai minyak wangi. Tradisi lebaran dengan baju baru merupakan simbolisasi kesucian, sebab baju baru terbebas dari noda dan kotor, orang yang mengenaka baju baru tersebut akan berusaha menjaga pakaian itu agar tetap bersih dan tidak terkena noda.
Hal ini sejalan dengan inti makna dari Idul fitri. Idul Fitri terdiri dari dua kata Id dan Fitri. Dr. Ibrahim Unais dalam Mu’jam Al-Wasîth memaknai Idul artinya kembali, sedangkan fitri artinya suci. Jadi Idul Fitri bahwa kita kembali kepada watak dasar (fitrah/ suci) manusia yang ada sejak lahir. Nilai kesucian yang ada, hendaknya dijaga bahkan semaksimal mungkin ditingkatkan kadar kesuciannya, sebagai mana simbol berbaju baru yang mesti kita jaga dari berbagai debu dan kotoran.

Idul fitri diharapkan sebagai tombak menambah ketakwaan kita kepada Allah SWT. Di situlah letak hakikat makna Idul fitri. Janganlah Idul fitri dipahami dengan berbaju baru saja namun melupakan bahwa jiwanya pun baru yang mesti dijaga dari nilai kesucian. Bahkan sebagian ulama ada yang mewanti-wanti untuk tidak mementingkan terhadap simbol-simbol dalam berlebaran, melainkan intinya yaitu keimanan hamba kian bertambah. Sesuai dengan maqalah,: “Tidak dinamankan Id dengan memakai baju baru, akan tetapi Id iman bertambah”

Dengan semangat jiwa yang baru dan beridul fitri hendaknya kita pacu mengukir prestasi ibadah kepada Allah SWT. Apalagi sebentar lagi kita akan ditinggalkan oleh madrasah Ramadhan yang sarat berbagai simbol-simbol ketaqwaan seorang hamba secara vertikal kepada sang Pencipta dan juga secara horizontal yang bernilai kemanusiaan sebagai bentuk ibadah sosial (dengan berzakat). Bahkan, perintah adanya kebersamaan (persatuan dan kesatuan) dan lain sebagainya.

Selepas ramadhan hendaknya segala sisi nilai kebaikan hendaknya senantiasa dipertahankan bahkan semaksimal mungkin untuk ditingkatkan pada bulan selanjutnya. Dengan semangat motto hidup baru dalam jiwa kita, “hari ini dan hari selanjutnya harus lebih baik dari hari sebelumnya”. Hal tersebut dimaksudkan, sebagai upaya bagaimana ketaatan kita sebagai hamba kian meningkat diiringi dengan nilai-nilai keikhlasan dalam menjalankan syariat Islam.

Al-hasil, simbol berlebaran dan hikmah ramadhan hendaknya menjadikan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah semakin meningkat. Saat memasuki atau merayakan idul fitri –di mana telah ditinggalkannya bulan ramadhan-- tak lain dan tak bukan harapannya sebagai bekal hidup kita nanti di hari/bulan/tahun kemudian ibadah kita menjadi lebih baik. Sebagaimana Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr: 18) “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10). Semoga. Wallâhu ‘alam

Tulisan ini sudah dimuat di Koran Harian ”Radar Bekasi” Jum’at tanggal 18 September 2009

Kamis, 17 September 2009

Puasa dan Zakat Fitrah

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika

Ibarat dua sisi mata uang, antara Puasa dan Zakat fitrah tidak bisa dipisahkan. Adanya perintah berpuasa --dari Allah Swt-- diperintahkan pula umat Islam untuk berzakat fitrah. Kita diingatkan untuk segera menunaikan zakat fitrah sampai batas akhir yaitu ketika khotib naik mimbar di awal bulan Syawal/ hari raya idul fitri. Dr. Yusuf Qardawi dalam kitabnya ”Fiqh az-Zakat” menjelaskan zakat fitrah --diperintahkan pada tahun kedua hijriah-- diwajibkan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya, untuk memberi makanan pada orang-orang miskin dan mencukupkan mereka dari kebutuhan dan meminta-minta pada Hari Raya.

Para fuqaha menyebutkan zakat fitrah sebagai zakat kepala atau zakat badan. Zakat badan dan kepala yang dimaksud adalah zakat pribadi/individu. Sebab, zakat fitrah terambil dari kata ”fitrah”, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) dalam keadaan suci sehingga wajib atas setiap jiwa mengeluarkan zakat fitrah (Fathul Bari, 3/367). wajibnya zakat fitrah ini bertujuan untuk mensucikan diri dan membersihkan perbuatannya.

Allah menganggap mereka yang menyucikan jiwanya sebagai orang beruntung. Mereka itulah orang yang dapat menyucikan jiwanya ketika mampu mengendalikan dirinya dari berbagai hal yang dapat mengotori jiwanya. "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat" (Al-A'la: 14-15) ”Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya" (QS. Asy-Syam:7-9).

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Zakat fitrah merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik laki-laki, perempuan, merdeka, budak sahaya maupun kaya dan miskin untuk segera menyucikan jiwanya dengan berzakat. Sehingga, mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah Swt dan bersukacita sebagai bentuk syukur kepada-Nya atas anugerah dan nikmat yang diberikan oleh-Nya.

Nabi Saw bersabda: Dari Ibnu Umar Ra. ia mengatakan: “Rasulullah Saw. mewajibkan zakat fitri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas budak sahaya, orang merdeka, laki-laki, wanita, kecil dan besar dari kaum muslimin. Dan Nabi memerintahkan untuk ditunaikan sebelum keluarnya orang-orang menuju shalat (Id).” (HR. Al-Bukhari dan HR. Muslim) Dari Ibnu Abbas Ra, ia berkata : "Rasulullah Saw. telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fituah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat 'Id (hari Raya) " (HR. Bukhori dan Muslim) "Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat 'Id, maka zakatnya diterima, dan barang siapa yang membayarkannya setelah shalat 'Id maka ia adalah sedekah biasa. "(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits tersebut, Jumhur ulama menjelaskan setiap muslim wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya sebanyak satu sha' (+- 2.5 kg beras atau 3.5 liter beras) dari bahan makanan yang berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika masih memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam. Adapun waktu pengeluaran zakat fitrah yang paling utama adalah sebelum shalat 'Id, boleh juga sehari atau dua hari sebelumnya, dan tidak boleh mengakhirkan mengeluaran zakat fitrah. Sebab, akan berubah nilai ibadah kita menjadi sedekah biasa tidak bernilai zakat fitrah lagi. Artinya, seorang muslim wajib memperhatikan waktu dalam menunaikan zakat.

Al-hasil, ramadhan adalah bulan puasa dan bulan bersih. Karena itu, bersihkanlah diri kita dari yang lahir sampai yang batin. Berusaha mencari rizki yang halal dan toyyib. Pastikan bahwa ramadhan ini kamar kita bersih, rumah kita bersih, kamar mandi bersih dari sampah, bersih dari barang-barang yang akan membuat ria, bersih dari barang milik orang lain, bersih dari barang yang tidak berguna.

Karena kalau rumah sudah kotor dari banyak barang yang haram (hasil memperoleh harta dari korupsi, manipulasi, dan mendapatkan cara tidak halal), barang yang ria, barang yang sia-sia, maka rumah itu tidak akan menyenangkan dan tidak akan berkah. Begitu pula dengan harta kita mulai sekarang harus bersih, jiwa kita harus bersih, hati ini harus bersih, kerja kita harus bersih bermanfaat bagi lainnya. Sehingga dipenghujung nanti mudah-mudahan kita dapat menggapai dan kembali kepada jiwa yang suci (fitrah) saat awal syawal (idul fitri). Jangan sekali-kali tercemari oleh hak-hak yang tidak halal bagi kita. Harta yang bersih akan penuh berkah dan diridhoi oleh Allah Swt. Amin. Semoga. Waallahu A’lam.

Tulisan telah dimuat di Koran Harian ”Radar Bekasi”, Rabu 16 September 2009

Dakwah Multikultural

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria Kota Bekasi dan
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta
(Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika)

Banyak peristiwa yang membuat bangsa ini kerap rentan perpecahan, bak kapal layar setiap penumpang berusaha membolongi kapal tersebut. Jika dibiarkan terus menerus kapal dan seluruh penumpang akan tenggelam. Sehingga, butuh adanya pengawasan dan pembinaan. Bangsa Indonesia sudah bersusah payah memperbaiki kinerja nama baik berkibar di mata dunia. Namun, gesekan kepentingan dan konflik SARA perlu mendapatkan perhatian dan dicarikan problem solvingnya. Isu terorisme (bom bunuh diri) berbaju agama, klaim akan masing-masing budaya, peperangan antar adat, suku/etnis, menganggap dirinya/kelompoknya paling benar dan banyak lagi upaya pemisahan atas negeri kesatuan republik Indonesia.
Mengapa hal tersebut terjadi? Di antara jawabannya yaitu karena minimnya pemahaman rakyat akan multikulturalnya bangsa ini. Karena itu pemerintah melalui Mentri Agama dan Depag kerap melakukan upaya sosialisasi multikultural dalam berbagai segi. Baik sosialisasi multikultural dalam pendidikan, pemimpin agama maupun sosialisasi multikultural dalam dakwah.
Perlukah dakwah berwawasan multikultural di negeri ini? Kepala Puslitbang Kehidupan Agama Departemen Agama, Prof. Abdul Rahman Mas'ud menjelaskan akan pentingnya wawasan multikultural, perlu dikembangkan di seluruh Indonesia. Sebab, kondisi masyarakat Indonesia majemuk rentan kemungkinan timbulnya kesalahpahaman, menjurus ke arah terjadinya konflik (Republika 17/6/09)
Hidup di negeri ini tak terlepas dari adanya multikultural. Multikultural dibutuhkan manusia dalam semua keadaan, termasuk dakwah. Hal ini dijelaskan Kepala Balai Litbang Depag Jakarta Drs. H. Imran Siregar (sekaligus ketua panitia) pada acara “Seminar Nasional: Dakwah Berwawasan Multikural” tanggal 10-11 September 2009 lalu dilaksanakan oleh Balai Litbang Depag Jakarta dihadiri oleh utusan kanwil se-Indonesia, ormas Islam dan lembaga dakwah di Hotel Mirah Bogor.
Penulis mencatat –saat mengikuti acara tersebut— pernyataan Prof. Dr. Ridwan Lubis, Dosen UIN Jakarta, kesadaran multikultural bangsa ini sebenarnya sudah muncul sejak negara Republik Indonesia terbentuk. Penjabaraan multikultural di Indonesia sudah disebutkan melalui binneka tunggal ika. Dakwah multikultural tentu yang mengajak umat ketengah (moderat), sebab Islam sebagai ummatan wasathan. Tidak mengarah kepada radikal atau liberal. Senada hal itu, Azyumardi Azra menjelaskan kaum Muslimin harus mengembangkan sikap multikultural, menghormati dan menoleransi tradisi politik, sosial-budaya masyarakat setempat; tidak memaksakan keinginan mereka sendiri. Sensitivitas multikultural seperti itu penting dikembangkan kaum Muslimin, jika Islam dan mereka sendiri ingin tidak terus disalahpahami dan bahkan dimusuhi. (Republika, 15/3/7)
Bahkan, Prof. Dr. M. Yunan Yusuf , Dosen Dakwah SPS UIN Yakarta, menjelaskan dakwah multikultural sebenarnya sudah tersirat kuat dalam Islam dengan ungkapan “Islam adalah penebar kasih sayang bukan teror bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin)”.
Ketua BKMT Tuti Alawiyah juga menjelaskan akan pentingnya memahami sasaran berdakwah ditengah masyarakat multikultural, perlu adanya keseriusan saat menyampaikan ceramah sesuai ukuran kadar pengetahuan audiens. Sebab, audiens yang multietnis dan multikultural dapat mudah menerima dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat dan efektif.

Dakwah Rasul
Sikap Rasulullah sangat menghargai eksistensi pluralitas budaya dan agama. Drs. Ahmad Syafi’i Mufid, MA, Litbang Pusat, menjelaskan bahwa dakwah multikulural sudah dipraktekkan oleh Rasulullah saat membangun masyarakat Madinah, yaitu membangun persaudaraan yang utuh antara muhajirin dan anshar, tercipta persatuan dan kesatuan.
Nabi Muhammad SAW pun telah mencontohkan dakwah multikultural kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu (Seperti kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia)).
Bahkan, saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan Dakwah bil-Haal mendirikan Masjid Quba di tengah masyarakat plural. Saat memimpin negara Madinah beliau merangkul dan melindungi hak dan kewajiban muslim dan orang-orang non-muslim dalam sebuah masyarakat madinah yang multikultural.
Rasul kerap mengapresiasi adanya perbedaan multikultural dalam pandangan beribadah dan tidak memaksakan kehendaknya kepada golongan/orang lain mengikuti yang diyakininya. ”Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kafirun (109): 6.) Demikian halnya dengan umatnya, hendaknya dalam mengarungi kehidupan berdakwan bertitik tolak dari kebijaksanaan, kedamaian dan rasa tepo seliro (senitify), yang dalam istilah Al-Qur'an disebut bi al-hikmah wa al-mauidzah al-hasanah. Terbangun kerukunan umat beragama dan tercipta persatuan dan kesatuan.

Dakwah Multikultural
Dakwah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata kerja da’a, yad’u, da’watan. Kata da’a mengandung arti mengajak, menyeru, memanggil. Maka, da’watan berarti ajakan, seruan, panggilan. Dakwah Islam berarti dapat dipahami sebagai ajakan, seruan, panggilan kepada Islam. Secara terminologis, Syeikh Ali Mahfudz –dalam kitabnya hidayat al-mursyidin-- menjelaskan dakwah adalah ”memotivasi/menyeru manusia untuk melaksanakan kebaikan dan berdasarkan petunjuk (Allah) dan memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan tujuan memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat”.
Multikultural adalah sunnatullah tidak bisa terelakkan. "Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.“ (QS. Al-Hujurat (49): 13). Tidak ada paksaan dalam beragama.
Scott Lash dan Mike Featherstone (2002), Recognition And Difference: Politics, Identity, menjelaskan multikulturalisme berarti “keberagaman budaya”. Sebenarnya, ada tiga istilah yang kerap digunakan secara bergantian untuk menggambarkan masyarakat yang terdiri keberagaman tersebut –baik keberagaman agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda- yaitu pluralitas (plurality), keragaman (diversity), dan multikultural (multicultural). Dengan demikian, Multikulturalisme diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan yang pluralis dan multikultural yang ada dalam kehidupan masyarakat. (Azyumardi Azra, Identitas dan Krisis Budaya). Inti dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan, tanpa memperdulikan perbedaan budaya, etnik, jender, bahasa, ataupun agama.
Dakwah multikultural berarti proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Dengan dakwah multikultural, diharapkan adanya toleransi dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak.

Minimalisasi Konflik
Jika kita menengok sejarah Indonesia, maka realitas konflik sosial sering kali mengambil bentuk kekerasan sehingga mengancam persatuan dan eksistensi bangsa. Sarat adanya keinginan suatu komunitas untuk melepaskan diri dari kesatuan wilayah NKRI. Tanpa dakwah multikultural, kerap konflik sosial akan terus menjadi suatu ancaman yang serius bagi keutuhan dan persatuan bangsa. Kakanwil Depag Jateng Drs H Masyhudi, MM menegaskan konflik yang terjadi karena faktor minimnya wawasan multikultural di sebagian masyarakat kita.
Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Dalam hal ini multikulturalisme, tidak ada dominasi budaya mayoritas dan tirani budaya minoritas. Sehingga zero timbulnya konflik dalam masyarakat multikular, saling menghormati dan menghargai. Semuanya tumbuh bersama dan memiliki peluang yang sama untuk menggapai kesejahteraan bersama (achieve of welfare) tanpa diskriminasi.

Pro-kontra
Gencarnya sosialisasi Multikulturalisme pemerintah –melalui Menteri Agama dan Depag-- dalam berbagai aspek kehidupan memberikan respon tersendiri adanya pro dan kontra di masyarakat. Terlepas pro-kontra tersebut, multikulturalisme seharusnya tidak menggerus keyakinan eksklusif masing-masing agama termasuk da’i dalam berdakwah. Ridwan Lubis menjelaskan agar para da’i tidak tergerus akidahnya maka, hendaknya para da’i membentengi dirinya dengan tiga pokok yaitu: pertama; Fiqh al-ibadah, kedua; fiqh ad-dakwah, dan ketiga; fiqh syiasah.
Al-hasil, dakwah multikultural menggugah para da’i menyampaikan materi dakwahnya tidak hanya ucapan saja. Namun, memberikan solusi atas problem kehidupan umat yang multikultural, memberikan kesejukan, ketenangan, kedamaian dan keamanan bagi kelancaran hidup berbangsa dan bernegara. Mengajak/menyeru dan memotivasi umat meningkatkan keimanan kepada-Nya.
Ide-ide kreatif dan inovatif sangatlah dibutuhkan guna memperlihatkan --kepada dunia/non muslim-- bahwa Islam sebagai milik manusia seluruhnya. Hal ini dapat dicontohkan adanya penelitian bahwa nasabah perbankan syariah, ternyata tidak muslim ansich, non-muslim pun ikut andil menjadi nasabah. Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara non-muslim lain pun ”sistem syariah” menjadi trend abad ini.
Boleh jadi, ketika mereka yang mendapatkan nilai kebaikan sistem Islam dengan sendirinya mereka akan memeluk Islam tanpa adanya paksaan. Artinya, menghargai multikulturalisme, keunikan, dan kekhasan setiap lapisan masyarakat, budaya dan agama, sangat dibutuhkan dalam berdakwah sehingga ditunggu kembali dakwah yang lebih menarik dan memiliki atsar satu untuk kita semua (rahmatan lil alamin). Semoga. Waallahu a’lam.

Tulisan ini telah dimuat di Koran Harian “Radar Bekasi” Minggu tanggal 13 September 2009.

Minggu, 06 September 2009

NUZULUL QUR’AN

Tulisan ini dimuat hari Minggu, 06 September 2009 di Koran “Radar Bekasi”
Kolom Tadarus

NUZULUL QUR’AN

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria Kota Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika

Di tanah air kita Indonesia, angka 17 memiliki makna istimewa. Alasannya, sengaja atau tidak ternyata negeri kita merdeka dari penjajahan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945. Rukun-rukun sholat juga ada 17. Bahkan pemerintah selalu mengadakan peringatan Nuzulul Qur'an pada malam 17 Ramadhan, karena pada malam 17 Ramadhan itu al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan dalil bahwa Allah menurunkan al-Qur’an pada hari bertemunya 2 pasukan, yaitu pada malam tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana firman Allah SWT: “…..jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari ‘Furqaan’ yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Anfaal (8):41)

Pengertian furqaan disini adalah pemisah antara yang hak dan yang batil. Sedangkan yang dimaksud dengan hari Al Furqaan adalah hari jelasnya kemenangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jum’at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al-Quranul Kariem pada malam 17 Ramadhan.

Selain itu dalam tafsirnya, Thabari meriwayatkan dengan sanadnya dari Hasan bin ali berkata : "malam Furqan adalah hari bertemunya 2 pasukan pada tanggal 17 Ramadhan". Meskipun ada juga ulama yang tidak menyetujui tentang nuzulul qur’an pada tanggal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh al-Qasthalani dalam mensyarahi hadits Bukhari telah meriwayatkan adanya perbedaan para ulama dalam menentukan malam tersebut. Ibnu Katsir didalam kitabnya ”Al Bidayah wa an Nihayah” menukil dari al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir mengatakan bahwa awal diturunkannya wahyu kepada Rasulullah saw adalah pada hari senin tanggal 17 Ramadhan akan tetapi ada juga yang mengatakan tanggal 24 Ramadhan.

Terlepas adanya perbedaan, tiap bulan Ramadhan umat Islam selalu diingatkan turunnya "nuzulul qur'an" terjadi pada bulan Ramadhan. Sehingga peristiwa Lailatul Qodar pun tidak dapat dipisahkan dengan Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an), karena pada malam itu pula Kitab Mulia ini Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Sebagai mana firman Allah Swt: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah:185). "lni adalah sebuah kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran." (Shad: 29). “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Umat Islam sangat bergembira dengan bulan Ramadhan adanya peristiwa turunnya Al-Qur`an. Sebab, Rasulullah Saw. senantiasa mempelajari Al-Qur`an di bulan ini bersama Malaikat Jibril. Beliau mendengarkan bacaannya, merenungkannya,memikirkan pelajaran yang ada di dalamnya, menghidupkan ajaran-ajarannya, melapangkan hatinya, dan menggali cinta dalam mutiara hikmah Al-Qur`an.

Terjadinya Nuzulul Qur'an hendaknya juga memiliki pengaruh yang besar bagi hidup ini dalam memposisikan Al-qur’an dengan sebaik-baiknya, tidak hanya diletakkan di atas lemari, di lekar, dijadikan pajangan semata di ruang tamu, atau dibiarkan berdebu bahkan sampai usang bentuknya.

Betapa banyak keutamaan Al-Qur’an yang dapat kita gapai di antaranya sebagai penyembuh atas penyakit. “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra (17): 82) Al-Qur'an juga adalah kitab yang berisi petunjuk dan penjelasan bagi manusia, tidak ada kebatilan di dalamnya, berisi aturan dan undang-undang langit untuk mengatur dan menentramkan dunia. Al-Qur'an berbicara tentang masa lalu, hari ini, juga masa yang akan datang. Berpahala bagi yang membaca dan mempelajarinya serta kitab yang dapat mengantarkan kepada keselamatan di dunia dan di akhirat. Bahkan akan mendapati keutamaan bagi yang mengimani dan mengamalkannya. Itulah kitab suci umat Islam, Kitab Al-Qur'an yang mulia dan terjaga, yang tidak ada keraguan di dalamnya. "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-hijr: 9)

Bahkan, diantara mu’jizat Al-Qur’an yaitu isi kandungannya banyak menceritakan tentang kisah-kisah ummat terdahulu, menggambarkan alam kosmos beserta galaksinya, sering mengupas tentang bentuk penciptaan manusia secara detail dan juga penciptaan alam raya ini, al-Quran juga sebagai kitab petunjuk bagi seluruh alam. Jadi Al-qur’an kandungannya berbicara tentang geografi, sejarah, fisika, kedokteran dan lain-lain agar kita dapat menemukan hidayat yang dimaksud oleh Allah swt dalam kandungan yang terdapat dalam al-Qur’an.

Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan : "Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan hujjah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya.

Ramadhan adalah kesempatan untuk menanam bagi para hamba Ailah, untuk membersihkan hati mereka dari kerusakan. Maka seyogianya waktu-waktu pada bulan Ramadhan dipergunakan untuk berbagai amal kebaikan, seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dan amalan ibadah lainnya. Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat. Sebagai mana Sabda Rasulullah Saw: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya. " (HR. Muslim dari Abu Umamah).

Al-hasil, banyak pelajaran yang kita dapati dari peristiwa nuzulul qur’an yaitu peristiwa yang mengajarkan kepada kita akan pentingnya posisi Al-qur’an sebagai pedoman hidup dengan membacanya, memahaminya, mengajarkannya kepada orang lain bahkan mengamalkannya. Hal ini tercipta, agar menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari atau sebagai budaya ummat Islam yang gemar baca, mengajar dan mengamalkan al-Qur’an. Sebagaimana hadits nabi yang diriwatkan oleh Usman bin Affan ra. dari Nabi saw. ia bersabda; "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain".(Bukhari). Bahkan akan diganjarkan pahala bagi yang membacanya sebanyak sepuluh kali lipat. (QS. Al-An’am: 160). Semoga.
Waallahu A’lam.

Jumat, 04 September 2009

Puasa dan Peduli Sosial

Muhammad Zen, MA
Ketua DMI Medan Satria - Kota Bekasi &
Konsultan Syariah IMZ-Dompet Dhuafa Republika

Waktu seperti air yang mengalir, tak terasa kita sudah memasuki awal fase kedua (magfiroh) dalam bulan romadhan yaitu hari kesebelas di bulan ini. Puasa adalah media latihan setiap individu untuk menahan lapar dan haus dahaga sejak fajar sampai magrib selama sebulan penuh lamanya. Pelajaran yang sangat berharga tentunya dengan berpuasa melatih kita merasakan bagaimana posisi dan keadaan orang-orang yang sering kehausan dan kelaparan. Dengan merasa seperti itu, diharapkan kita menjadi sensitif terhadap persoalan-persoalan yang sering dihadapi orang miskin dengan ringan tangan membantunya.

Sehingga, dengan puasa yang dilaluinya timbul cinta kasih kepada sesama manusia. Kita merasakan tidak makan dan minum saja dari waktu yang telah ditentukan tersebut saja betapa terasa lapar dan dahaga, letih, lemas, dan kurang bertenaga. Bagaimana dengan saudara kita yang memiliki keterbelakangan ekonomi tidak makan dan minum hampir setiap hari, boleh jadi ada yang lebih dari satu, dua, dan tiga hari atau bahkan ada yang berminggu-minggu lamanya?

Puasa adalah ritual keagamaan yang penuh makna yang bernuansa humanis/kemanusiaan. Ibadah puasa kian bermakna jika dilaksanakan dengan disertai pemahaman akan hikmah di dalamnya bahkan dengan sukarela membantu terhadap sesama dengan berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersedekah. Apalagi di bulan yang penuh ampunan Allah Swt. Pernah suatu ketika Rasulullah ditanya oleh salah seorang sahabat; “ya Rasulullah perbuatan apa yang sangat mulia (dilakukan oleh manusia)? Rasul menjawab: “Berbuat kebajikan atau bersedekah pada bulan Romadhan”. (HR. Bukhori) Sebab, pada bulan ini amal kebajikan termasuk sedekah akan dilipat gandakan oleh Allah sepuluh kali lipat (QS. Al-An’am: 160) bahkan sampai lebih yaitu tujuh ratus kali lipat pahala yang diperolehnya (QS. Al-Baqarah : 261).

Pada dasarnya saat kita melakukan amal sosial adalah untuk diri kita sendiri. (QS. Al-Jatsiyah : 15) Sedekah berarti berderma atau melakukan perbuatan yang baik karena Allah Swt semata. Banyak model sedekah yang dapat kita lakukan dalam rangka peduli sosial. Sedekah membantu kepada mereka yang membutuhkan baik dalam bentuk barang (makanan dan minuman atau lainnya) dan jasa, sedekah juga bisa lewat dengan senyuman, berzikir sehingga enggan menyakiti orang lain bahkan orang yang menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dalam jalan raya pun dikategorikan oleh Rasul sebagai bentuk sedekah atau peduli sosial. (HR. Bukhori) Orang yang gemar memberikan makanan pada orang yang kelaparan. Ini adalah praktik riil bagaimana kepedulian itu ditunjukkan dengan kerelaan kita memberikan sebagian harta kita untuk meringankan beban mereka dengan bersedekah dan berzakat.

Islam adalah agama yang humanis, memperhatikan masalah sosial. Hal ini dapat juga dicermati bagaimana saat kita beribadah shalat yang diakhiri dengan salam (tengok kanan dan ke kiri ). Inipun boleh jadi sebagai simbol disamping sebagai bentuk ibadah kepada Allah, agar kita selalu mengingat, memperhatikan dan membantu meringankan beban kesulitan ekonomi saudara kita yang ada disamping kanan dan samping kiri kita.
.
Allah Swt telah berjanji akan memasukkan mereka (yang meringankan beban saudaranya dengan bersedekah/berzakat) ke dalam syurga firdaus yang kekal di dalamnya (QS. Al-mu’minun: 10-11). Bahkan Allah akan memasukkan kepada mereka yang tidak peduli sosial yaitu ke dalam neraka (saqar). “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, Dan Kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin” (QS. Al-Muddatstsir (74): 42-45).

Al-hasil, Puasa yang kita lalui mudah-mudahan dapat membuat rasa peduli sosial terlatih. Bahkan semakin meningkatkan amal sosial kita secara horizontal, yang berdampak nyata pada masyarakat dan lingkungan. Di samping, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt secara vertikal agar keimanan dan ketakwaan kita semakin meningkat. Amin.
Waallahu A’lam



Sumber: dimuat pada Koran “Radar Bekasi” : Tadarus, Tanggal 1 September 2009