Sabtu, 22 November 2008

Tantangan Perbankan Syariah

Kompas Rabu, 19 November 2008 | 00:58 WIB

Oleh M Dawam Rahardjo

Dari segi ontologi, tujuan pendirian bank-bank Islam di Indonesia maupun di seluruh dunia adalah mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya, khususnya memungut riba dalam pinjam-meminjam.

Ini berbeda dengan tujuan pendirian bank-bank konvensional, yaitu menyediakan pinjaman dengan menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan ke masyarakat yang membutuhkan. Dengan kata lain, bank konvensional adalah lembaga perantara keuangan. Tujuan lebih lanjut adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis dengan memanfaatkan simpanan masyarakat yang memiliki dana surplus setelah dikurangi konsumsi.

Maka, dari segi aksiologi, bank syariah, yang semula disebut bank Islam, didirikan untuk menerapkan hukum Islam, sedangkan bank konvensional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara epistemologi, pengelolaan bank konvensional berpedoman pada manajemen perbankan. Akan tetapi, dalam bank syariah, manajemen perbankan harus mengikuti hukum-hukum syariah. Itu sebabnya bank syariah memiliki lembaga pengawasan, disebut Dewan Syariah, dibentuk oleh otoritas keagamaan, Majelis Ulama Indonesia atau di Malaysia, Dewan Ugama.

Mengingat motifnya bukan bisnis, pernah ada yang mengatakan, bank syariah akan sulit berkembang, tetapi kenyataan menunjukkan sebaliknya. Perbankan syariah berkembang meski awalnya dijumpai kesulitan menghimpun dana untuk modal awal sebesar Rp 10 miliar (1990-an). Berkat intervensi negara melalui Presiden Soeharto, dapat dihimpun dana Rp 110 miliar. Langsung dapat dibentuk bank syariah pertama bernama Bank Mu'amalat Indonesia (BMI) dengan CAR amat mencukupi.

Namun, kecukupan modal saja tidak mencukupi. Dana selanjutnya diharapkan dari penyimpan pihak ketiga untuk memperbesar modal dan aset. Semula juga diragukan, masyarakat bersedia menabung. Masalahnya, penabung tidak dijanjikan suku bunga pasti, tetapi bergantung pada laba dan bagi hasil. Jika laba bank kecil atau merugi, perolehan bagi hasil nasabah ikut kecil pula.

Maka, agar masyarakat—yang umumnya bermotif ekonomi—mau menyimpan uangnya di bank, perlu dibuktikan bahwa bagi hasil bank syariah lebih tinggi dari bunga bank konvensional. Bank syariah berharap mendapat nasabah emosional dari umat Islam yang takut menjalankan riba. Penyimpan seperti itu ada, bahkan cukup fanatik. Buktinya, saat suku bunga bank mencapai 70 persen pada masa krisis, nasabah emosional itu tetap bertahan dengan tingkat bagi hasil yang jelas lebih rendah. Rush yang diramalkan pun tidak terjadi. Bahkan, bank-bank syariah tetap bertahan, sementara banyak bank konvensional bangkrut karena penarikan dana dan negative spread. Hal ini menjadi bukti keunggulan syariah yang tidak bergantung pada naik-turunnya suku bunga, dibanding bank konvensional.

Tanpa melibatkan dogma

Bank syariah menunjukkan bukti sukses penerapan syariah di bidang bisnis. Kunci sukses ini ada dalam metode atau cara penerapan.

Pertama, kajian ilmiah tentang riba dan alternatif riba dengan menggunakan teori-teori ekonomi, terutama moneter modern. Hasil kajian itu diterbitkan dalam jurnal-jurnal profesional untuk diketahui dunia akademis. Penerbitan itu menimbulkan aneka perbincangan tanpa melibatkan iman, dogma, dan doktrin keagamaan. Dan, kajian itu bisa diterima dunia akademis untuk dikuliahkan dan dipelajari mahasiswa di universitas terkemuka, seperti Harvard dan Oxford.

Kedua, hasil kajian ilmiah tentang perbankan syariah lalu dikemas menjadi produk-produk perbankan dan ditawarkan ke masyarakat dan dunia bisnis. Sebagian masyarakat menerima produk itu berdasar keyakinan agama, tetapi dunia bisnis ada yang menerima dan menolak produk itu berdasar pertimbangan rasional-ekonomis, yakni untung rugi. Inilah yang mendasari sebagian pemilik dana untuk menginvestasikan dan menyimpan uangnya ke bank syariah.

Ketiga, seperti kebijakan moneter dan perbankan memerlukan legislasi dan regulasi untuk menjamin kepastian hukum, syariat di bidang perbankan ini juga dilegislasikan, biasanya setelah didiskusikan secara publik melalui seminar-seminar. Pelegislasian syariat itu dilakukan melalui cara demokratis.

Meskipun UU dan peraturan perbankan syariat telah menjadi hukum positif, tetapi realisasinya tetap bersifat sukarela karena, menurut Sjafruddin Prawiranegara SH, mantan Gubernur BI, hukum syariat adalah sebuah voluntary law. Dengan perlindungan hukum, bank syariah berkembang di pasar, bersaing dengan bank-bank konvensional. Konsumen dipersilakan memilih. Hal ini berbeda, misalnya, dengan di Iran, di mana perbankan syariah diberlakukan dengan menutup bank-bank konvensional.

Tiga faktor

Ada beberapa faktor mengapa perbankan syariah berkembang. Pertama, produk bank syariah memiliki keunggulan, misalnya penyimpan maupun peminjam terhindar dari risiko fluktuasi suku bunga sehingga memudahkan perencanaan usaha.

Kedua, produk bank syariah cukup variatif yang tidak bisa dilaksanakan di bank konvensional misalnya sistem gadai atau raihan, mudharabah muqayyadah di mana pemilik dana bisa menunjuk peminjam dan di bidang apa bisa dan tidak bisa diinvestasikan, juga ijarah muntahya bi al tamlik atau sewa dengan hak untuk memiliki barang di akhir sewa atau hak untuk membeli barang yang telah disewa.

Namun, bank syariah juga memiliki hambatan. Pertama, tidak mudah bagi bank syariah untuk mengeluarkan produk baru karena pertimbangan subhat atau meragukan hukumnya yang merupakan grey area dalam penilaian Dewan Syariah.

Kedua, jika dana berlebih, hukum syariat melarang bank menyimpannya di SBI. Namun, bisa disimpan di giro wadiah BI yang bagi hasilnya lebih kecil daripada suku bunga SBI.

Ketiga, bank syariah terkena pajak untuk transaksi murabahah karena dianggap sebagai produk perdagangan dan bukan hanya produk bank.

Agar bisa berkembang, bank syariah harus membuktikan keunggulanya berdasarkan manfaat, baik bagi masyarakat umum maupun dunia bisnis. Kini investor non-Muslim banyak yang tertarik untuk berinvestasi di bank syariah. Demikian pula nasabah rasional sudah melebihi 50 persen dari seluruh nasabah, jadi sudah diterima pasar.

Di AS, para ahli keuangan sudah melirik. Bahkan, mulai mempelajari apakah konsep syariah bisa menjadi alternatif sistem keuangan global yang kini sedang dilanda turbulensi? Di Indonesia, gerakan perkreditan mikro juga bertanya, apakah pendekatan syariah bisa mendukung sistem perkreditan mikro yang mampu memberdayakan ekonomi rakyat yang sehat, mandiri dan berkelanjutan (sustainable) ?

M Dawam Rahardjo Pemerhati Perbankan Syariah; Ketua Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Jakarta
__._,_.___

Jumat, 31 Oktober 2008

Krisis Global

Ekonomi Islam Dapat Dijadikan Model Baru Atasi Krisis Global
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/10792.html
Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 09:43:00


JAKARTA -- Direktur Bank Muamalat U Saefudin Noer, Rabu, mengungkapkan bahwa "Islamic Economic" dapat dijadikan model baru untuk mengatasi "bublle" ekonomi yang terjadi saat ini.

"Banyak negara saat ini melihat sistem ekonomi Islam untuk dijadikan referensi untuk mengatasi 'gelembung atau bublle' yang terjadi saat ini," kata Saefudin, saat berbicara dengan ANTARA di Jakarta, Rabu.

Beberapa negara sudah mulai mengembangkan ekonomi Islam, seperti Hongkong dengan mengembangkan "Islamic Economic Center", ungkapnya.

Salah satu penyebab permasalahan krisis keuangan yang melanda Amerika adalah berkaitan dengan industri "subprime mortgage" (KPR Subprima).

Dia juga menyebutkan bahwa permasalahan krisis yang melanda ekonomi dunia saat ini, bukan hanya diakibatkan sistem kapitalisme yang diragukan kemampuannya dalam mewujudkan kesejahteraan dunia, tetapi juga diakibatkan oleh berubahnya etika moral para pelaku dunia keuangan.

Para pelaku ekonomi gaya kapitalis ini lebih cenderung melakukan rekayasa produk spekulasi untuk mencari keuntungan yang cenderung rakus (greedy), kata Saefudin.

Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank kovensional justru kebalikannya.

Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga, maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil.

Selain itu, Saefudin juga mengungkapkan bahwa perbankan syariah juga pro sektor riil, sehingga mendorong ekonomi negara bergerak, sehingga bisa menyelamatkan dari krisis.

Konsep bagi hasil yang diterapkan bank syariah adalah menginvestasikan dana nasabah di bank terlebih dahulu kedalam usaha, barulah keuntungan usahanya dibagikan.

Berbeda dengan simpanan nasabah di bank konvensional, tidak peduli apakah simpanan tersebut di salurkan ke dalam usaha atau tidak, bank tetap wajib membayar bunganya, katanya.

Perbankan Syariah di Indonesia

Perbankan syariah di Indonesia yang muncul pertama kali adalah PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang berdiri pada 1992 ini merupakan yang tidak mendapat suntikan dana pemerintah saat krisis 1998 lalu.

Pengalaman itu dapat dijadikan bukti bahwa sistem ekonomi Islam yang diterapkan dalam BMI bisa selamat dari krisis yang terjadi di sektor industri perbankan, jelasnya.

"Pada saat krisis 1998 lalu perbankan Indonesia telah menaikkan suku bunganya yang tinggi, sehingga yang terjadi adalah negatif margin karena perbankan tidak bisa menyalurkan kredit kembali dan timbul kredit macet," jelasnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan bank syariah di Indonesia sangat pesat, namun "size"nya masih kecil. "Pertumbuhan bank syariah sebesar 60 persen tahun lalu, memang bank syariah asetnya masih sekitar 2-3 persen dibanding bank konvesional," jelasnya.

Sedangkan pasar bank syariah sendiri, BMI telah menguasai 35 persen pangsa pasarnya, dengan transaksi paling besar dari sistem traksaksi Murabahah (Jual-beli), diikuti oleh sistem transaksi mudharabah (bagi hasil) dan sistem transaksi Ijarah (sewa).

Tantangan yang dihadapi bank syariah di Indonesia saat ini perlunya modal yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya, sumber daya manusia yang belum mampu mengimbangi pertumbuhannya dan jaringan kantor.

Saefudin juga mengungkapkan bahwa bank syariah tidak akan melakukan pendanaan besar-besaran disaat bank konvensional sedang melakukan pengetatan likuiditas akibat krisis saat ini. "Kita memang tidak akan menghentikan pendanaan, namun perlu ditingkatkan sistem prudential (kehati-hatian) dalam penyaluran dana," jelasnya. -ant/ah

Selasa, 24 Juni 2008

BANK SYARIAH VS KONVENSIONAL


selasa, 24 Juni 2008

'DPK Bank Syariah Tertekan Bank Konvensional'

Bank syariah perlu optimalkan sosialisasi ke nasabah mengambang dan loyal.
JAKARTA -- Peneliti Senior Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia (BI), Ascarya menyatakan, saat ini penghimpunan dana pihak ketiga perbankan syariah tertekan perbankan konvensional. Hal itu dipicu oleh kenaikan suku bunga BI (BI rate) menjadi 8,5 persen yang mendorong kenaikan suku bunga DPK perbankan konvensional.
Sementara, margin bagi hasil DPK perbankan syariah tidak bisa dinaikkan tanpa didasarkan pada performa penyaluran pembiayaan bagi masyarakat. ''Berdasarkan penelitian, DPK Bank Syariah saat ini tengah tertekan perbankan konvensional,'' katanya kepada Republika, Senin, (23/6). Ascarya menyebutkan, tertekannya DPK perbankan syariah dibandingkan perbankan konvensional secara umum dipicu oleh peningkatan BI rate. Akibatnya seluruh bank konvensional menaikkan suku bunganya. Hal tersebut membuat nasabah mengambang atau floating mass lebih memilih menempatkan dana mereka di bank konvensional.
Mengenai cukup tingginya rasio penyaluran pembiayaan dibandingkan DPK Financing to Deposit Ratio atau FDR, Ascarya berpendapat, hal itu terjadi bukan karena optimalnya penyaluran pembiayaan. Menurutnya, hal itu itu lebih disebabkan pertumbuhan DPK perbankan syariah yang berjalan kurang optimal akibat tertekan pertumbuhan DPK perbankan konvensional. ''Apalagi, bank konvensional terus berupaya melakukan promosi melalui iklan di berbagai media massa. Sedangkan, bank syariah tidak terlalu banyak,'' katanya.
Untuk mengatasi permasalahan DPK, menurutnya, bank syariah perlu mengoptimalkan sosialisasi dan penjaringan nasabah mengambang dan loyal. Saat ini, nasabah loyal diperkirakan mengkomposisi sekitar 10 persen dari total nasabah perbankan syariah. ''Bank syariah perlu menyasar nasabah floating mass tapi juga perlu memperbesar porsi nasabah loyal,'' kata Ascarya.
Pentingnya memperbesar porsi nasabah loyal karena mereka cenderung tidak mudah dipengaruhi oleh perubahan BI rate. Karena itu, semakin besar porsi nasabah loyal maka akan berpengaruh positif bagi perkembangan perbankan syariah. Sekretaris Umum Asosiasi Bank Islam Indonesia (Asbisindo), Bambang Sutrisno juga mengakui, tertekannya DPK perbankan syariah oleh perbankan konvensional akibat kenaikan BI rate. Kenaikan suku bunga BI itu mendorong banyak nasabah mengambang untuk mengambil untung dari bunga bank konvensional. ''Kondisi itu memang sedang terjadi saat ini,'' ujarnya.
Ia menyebutkan, saat ini return bagi hasil DPK bank syariah sekitar enam hingga delapan persen. Untuk mengatasi permasalahan itu, Bambang menyebutkan, perbankan syariah perlu bekerja lebih optimal dalam menyalurkan pembiayaan. Selain masalah sosialisasi, pengembangan perbankan syariah juga perlu menyediakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas bagi perbankan syariah. Saat ini, bank syariah masih membutuhkan ribuan SDM untuk mendukung pengembangan industri itu.
''Tingginya permintaan dan minimnya ketersediaan SDM menyebabkan menurunnya kualitas SDM perbankan syariah karena yang bekerja yang itu-itu saja. Ini perlu perhatian serius untuk ditangani segera,'' katanya. Berdasarkan data publikasi Bank Indonesia (BI), hingga akhir April lalu, DPK perbankan syariah tercatat sebesar Rp 31,064 triliun. Sedangkan, pembiayaan perbankan syariah tercatat sebesar Rp 31,022 triliun.
Sementara, aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp 40,071 triliun. Hingga April lalu, FDR perbankan syariah tercatat pada posisi 99,86 persen. Sedangkan, rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perbankan syariah pada posisi 4,39 persen atau senilai Rp 1,362 miliar. Sementara, rasio tingkat pengembalian dibandingkan ekuitas atau return on equity (ROE) dan tingkat pengembalian dibandingkan aset atau return on asset (ROA) masing-masing berada pada posisi 61,03 persen dan 1,83 persen .n aru
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=338714&kat_id=256

Jumat, 18 April 2008

MUTIARA CEO DUNIA

Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. - Horace Walpole

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu ! Dan karena itulah, Qalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya. - Jalaludin Rumi

Sesungguhnya seseorang bisa disebut mandiri bukan lantaran ia sudah tidak lagi meminta, tapi lebih karena ia sudah bisa memberi harapan akan kembali diberi. - Anonim

Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. - Anonim

Tak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan pujian. - Anonim

Kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya. - Jonathan Swift

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. - Michel De Montaigne

Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri. - Anonim

Salah satu fungsi diplomasi adalah untuk menutupi kenyataan dalam bentuk moralitas. - Will Dan Ariel Dunant

Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can. - Anonim

Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik. - Baron Pierre De Coubertin

Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan, tetapi keikutsertaan ... - Baron Pierre De Coubertin

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. - Charles "tremendeous" Jones

Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang. - Gordon Van Sauter

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. - Gordon Van Sauter

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. - Alexander Graham Bell

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. - Thomas A. Edison

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak. - John Naisbitt

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. - P.t. Barnum

Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus, Tanpa inspirasi.... kita akan binasa. - Walt Disney
Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi. - Bill Mccartney

Saat menghadapi kesulitan, beberapa orang tumbuh sayap, sedang yang lain mencari tongkat penyangga. - Harold W. Ruoff

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan cinta, maka cintalah pada akhirnya yang justru menunggu kita. - Oscar Wilde

Kebebasan itu berasal dari manusia, tidak dari undang-undang atau institusi. - Clarence Darrow

Lebih mudah menambahkan sesuatu pada reputasi yang besar daripada untuk memperoleh reputasi itu sendiri. - Publius Syrus

Ketika kita menjadi tua, waktu akan membuat kita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita, sebagai ganti dari orang-orang yang kita cintai. - J. Petit Senn

Tak melakukan apa-apa merupakan kekuatan setiap orang. - Samuel Johnson

Keberanian bukanlah ketidakhadiran rasa takut, tetapi melakukannya - Montaigne

Kegagalan biasanya merupakan langkah awal menuju sukses, tapi sukses itu sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju puncak sukses. - Lambert Jeffries

Pastikanlah bahwa kepala Anda tidak lebih tinggi dari topi Anda. - Vergill

Tempat untuk berbahagia itu di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia. - Robert G. Ingersoll

Keberanian bukanlah ketidakhadiran rasa takut, tetapi melakukannya. - Montaigne

Sifat Cinta: 1. Tidak membeda-bedakan 2. Cuma-cuma atau tanpa pamrih 3. Ketidaksadaran diri 4. Bebas - Anthony De Mello Sj

Hanya ikan yang bodoh yang bisa dua kali kena pancing dengan umpan yang sama. -

Kebanyakan dari kita yakin bisa membuat orang lain bahagia dengan cara yang kita tentukan. - Robert S. Lynd

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan cinta, maka cintalah pada akhirnya yang justru menunggu kita. - Oscar Wilde

Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan. - Thomas Fuller

Ada dua hal yang harus Anda lupakan: Kebaikan yang Anda lakukan kepada orang lain dan kesalahan orang lain kepada Anda. - Sai Baba

Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apapun. - George Bernard Shaw

Pengetahuan ada dua macam : yang telah kita ketahui dengan sendirinya atau yang hanya kita ketahui dimana ia bisa didapatkan. - Samuel Johnson
Orang yang menikmati kebebasan yang terbesar adalah ia yang paling bertanggung-jawab karena ia bertanggung-jawab sehingga ianya merasa bebas. - Guru Ching Hai

Tao tidak dapat diuraikan dengan pengetahuan; Tao adalah pemahaman batin dan suatu pencerahan batin. Rileks sehingga Anda akan maju dalam latihan Anda. Bersifat alami. Jangan mengharapkan bahwa segala sesuatu akan berakhir secara sempurna. Namun demikian, Anda jangan malas. - Guru Ching Hai

Jangan selamanya menyalahkan orang lain, harus menyalahkan diri kita. Apapun yang terjadi pada diri kita, itu semua adalah akibat karma kita. - Guru Ching Hai

Kita harus peduli pada orang lain. Itulah tujuan hidup. Semakin kita peduli pada orang lain, semakin kita mengembangkan diri kita, berkembang hingga kita menjadi satu dengan segalanya, dan kita menjadi Buddha. Semakin Anda peduli pada diri sendiri, semakin sempit jadinya Anda. - Guru Ching Hai

Kebersihan adalah semacam pemberian derma karena hal tersebut memberikan orang-orang sekitar suatu perasaan yang menyenangkan. - Guru Ching Hai

Yang hanya dapat membebaskan kita adalah Kebenaran. Jika kita tidak memahami itu kita senantiasa merasa cemas. - Guru Ching Hai

Imanmu harus lebih kuat dari rasa takutmu; itulah pelajaranmu, karena Tuhan senantiasa lebih kuat dari kekuatan negatif. Jadi jika kamu bersama Tuhan, kamu tidak perlu merasa takut. - Guru Ching Hai

Hal yang terbaik adalah tidak merasa takut akan apapun, karena kita adalah duta dari Kebenaran, dan segala hal yang palsu (maya) pasti berembus cepat atau lambat. Itulah semua yang harus Anda percayai. - Guru Ching Hai

Sesuatu yang baik selalu sederhana dan tanpa pamrih. Cinta kasih dan tanpa pamrih adalah pandangan hidup yang seharusnya menuntun kehidupan kita. Dengan atau tanpa inisiasi, dengan atau tanpa kesadaran Tuhan. - Guru Ching Hai

Jika kita tidak mengendalikan pikiran kita dengan Hakekat Kebuddhaan kita, tidak berlatih secara sungguh-sungguh, tidak jujur terhadap diri kita dan tidak mengkaji tingkah laku kita secara ketat, maka kita akan pasti dikuasai oleh Maya. Menjadi dikuasai bukanlah berarti bahwa kita menjadi seperti orang gila (berbicara tidak karuan) atau wajah kita berubah menjadi mengerikan. Apabila kita tidak melangkah di jalur yang tepat, maka kita akan melangkah di jalur Maya. - Guru Ching Hai

Semakin kita berlatih, maka semakin mawas kita harusnya; kalau tidak kita akan dengan mudah jatuh ke dalam suatu pojok. Jika kita terperosok di pojok tersebut, kita tidak akan mampu untuk mempelajari dari aspek lainnya. Jadi kita janganlah menuruti hati (kita) dalam segala tingkat pengalaman. Oleh karena hal ini maka Sutra Intan menyatakan: "Biarlah tiada ketagihan (kelekatan), biarlah hati kita bebas adanya. - Guru Ching Hai

Tiada siapapun selain orang itu sendiri yang dapat melaksanakan latihan rohaninya, menyalakan pelita dan menjalani jalur tersebut. - Guru Ching Hai

Bersikap jujur terhadap orang lain adalah perlindungan terbaik bagi martabat dan hati nurani kita. Itulah jalan yang terbaik buat kita. - Guru Ching Hai

Kita harus berbagi pahala yang muncul dari latihan rohani kita dengan dunia. Kita tidak berlatih hanya untuk kepentingan diri kita sendiri saja. - Guru Ching Hai

Benda-benda di dunia ini akan kita nikmati jika benda-benda tersebut ada.Jika benda-benda itu tidak ada, ianya tiada perbedaan bagi kita. Itulah caranya dari roh yang tercerahkan. - Guru Ching Hai

Segala sesuatu diciptakan oleh kita. Sehingga jika kita ingin menjalani kehidupan yang bahagia, kita harus menciptakan suasana yang bahagia. - Guru Ching Hai

Cinta sejati berarti pihak lainnya tidak merasa kita itu ada, bahwa kita tidak berada di sekitarnya, tidak mengambil ruangannya, tidak membuatnya merasa terikat. Dia merasa lebih menyenangkan di dekat kita. - Guru Ching Hai

Hanya apabila Anda menemukan keindahan, kemuliaan dari Kerajaan Tuhan, barulah dapat Anda melupakan ambisi untuk keberhasilan di dunia ini. Itulah sebabnya saya menawarkan Anda Metode Quan Yin, sehingga Anda dapat melihat kemuliaan Tuhan, kemuliaan Surga, dan lalu menghilangkan nafsu keinginan atas keuntungan materi dan ketenaran. Hal tersebut seperti seorang bayi, jika Anda memberinya susu maka ia tidak akan lagi menyedot yang palsu. - Guru Ching Hai

Apabila hati kita tulus, ego berkurang, dinding ketidaktahuan dapat retak, kita dapat melihat banyak alam yang berbeda-beda. - Guru Ching Hai

Enyahkanlah ego kecilmu, maka Anda akan menjadi Agung. - Guru Ching Hai
Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik. - Guru Ching Hai

Bagaikan anak, kita harus menjaga kepolosan hati dan menerima dengan tangan terbuka, dengan demikian kita akan maju dengan pesat. - Guru Ching Hai

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang disebut Nasib, itu hanyalah masalah kurang berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kegagalan atau keberhasilan duniawi bukanlah tujuan yang penting. Kadang-kadang kegagalan adalah keberhasilan, sebaliknya keberhasilan adalah kegagalan. Kita harus menilainya dengan mata kebijaksanaan. - Guru Ching Hai

Jangan suka saling memuji, hal ini akan saling meracuni diri, karenanya akan menurunkan tingkat seseorang, dengan sendirinya ia telah menciptakan karma perintang bagi dirinya. - Guru Ching Hai

Kita banyak berutang budi kepada dunia, andaikan kita memberikan sedikit sedekah kepada orang lain, itu hanya merupakan pembayaran hutang, bukanlah amal. - Guru Ching Hai

Kebahagiaan adalah karena diri kita tidak berubah, dalam situasi apapun kita tetap stabil, tetap sama. - Guru Ching Hai

Untuk melakukan hal-hal yang besar, kita mesti sempurnakan hal-hal yang kecil. Orang-orang yang termasyur sangat penuh perhatian pada rincian yang kecil. Itulah bagaimana mereka menjadi termasyur. - Guru Ching Hai

Anda mesti bekerja sendiri, kalian semua, sampai Anda memahami apa adanya dirimu, dan tidak tergantung pada segala sesuatu. Bersikap teguhlah. Jangan terlalu banyak menaruh kepentingan pada keberadaan fisik Anda. Berikan makanan secukupnya; berikan tubuh makanan secukupnya, pakaian secukupnya, latihan secukupnya, hanya itu saja. Jadikan tubuh itu menyenangkan dan itu sudah cukup. Kalau tidak kita akan selamanya terikat pada dimensi fisik. Apapun yang terlalu kita perhatikan, kita akan terikat dengannya. Saya juga harus bekerja untuk pemahamanku. Kemungkinan saya bekerja lebih cepat dari Anda, tetapi cepat atau lambat Anda akan sampai. - Guru Ching Hai

Jangan membeda-bedakan pekerjaan mana yang baik dan mana yang buruk. Masalah muncul jika kita membeda-bedakan dan memihak sesuatu. - Guru Ching Hai

Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan. - Guru Ching Hai

Kita mengerjakan segala sesuatu haruslah dengan tuntas, sempurna. Jangan sampai dicela, dikeluh orang, itulah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Kita bekerja harus tanpa pamrih. Itu berlaku untuk segala pekerjaan. Pengabdian tanpa syarat adalah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Anda selalu berlebih-lebihan dalam pekerjaan. Anda tidak tahu kapan untuk berhentinya. Inilah masalah yang sebenarnya. - Guru Ching Hai

Bekerja adalah untuk melatih diri, mengabdikan diri, demi amal bhakti atau balas budi kepada dunia atas segala pemberiannya. - Guru Ching Hai

Carilah uang secukupnya saja untuk membiayai kehidupan, agar dapat menyisihkan waktu dan tenaga untuk berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kita bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, melainkan untuk menunaikan kewajiban kita. - Guru Ching Hai

Membantu orang lain adalah membantu kita sendiri. Kita senantiasa harus membersihkan pikiran kita, mengamalkan cinta kasih dan kasih sayang kita dengan tanpa syarat, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, itulah jalan terbaik. - Guru Ching Hai

Membantu orang untuk mencapai Kebebasan Abadi dan mengenal Ajaran Sejati adalah bantuan yang terbesar, jasa yang tertinggi. - Guru Ching Hai

Jika masih memikirkan untuk membela nama baik kita, wibawa kita, agar orang tahu bahwa kita sangat baik, maka kita masih mempunyai ke-aku-an, masih belum terbebas dari konsepsi orang awam. - Guru Ching Hai
Teguran dari orang lain merupakan suatu pujian! - Guru Ching Hai

Manusia terlalu sombong, kesombongan adalah karma kita yang paling merepotkan, rintangan yang terbesar. - Guru Ching Hai

Berterus terang kepada diri sendiri adalah berterus terang kepada siapapun. - Guru Ching Hai

Kita harus menemukan kekuatan kasih dalam diri kita terlebih dahulu, barulah kita dapat benar-benar mengasihi orang lain. - Guru Ching Hai

Jika kita tulus dan berdisiplin terhadap diri sendiri, maka orang lain akan jujur terhadap kita. - Guru Ching Hai

Carilah dulu Kerajaan Surga di dalam diri kita, kemudian kita akan memiliki segalanya. - Guru Ching Hai

Memperbaiki diri kita adalah memperbaiki dunia. - Guru Ching Hai

Jika kita menganggap diri kita lemah, maka kita akan menjadi lemah; jika kita menganggap diri kita agung, maka kita akan menjadi agung. - Guru Ching Hai

Kita harus dapat menghargai diri sendiri, baru kita akan dihormati oleh orang lain. - Guru Ching Hai

Kita bisa menipu seluruh dunia, namun menipu diri akan menjadi masalah yang semakin pelik. Mungkin saja kita dapat menipu Buddha, namun kita tidak dapat menipu diri sendiri. Di mana saja, kita akan mengetahui perilaku kita sendiri, mengetahui sampai mana kadar keburukan kita, dan di mana kebaikan kita; inilah kekuatan yang menciptakan surga dan neraka, yang berasal dari dalam diri kita, maka Buddha mengatakan, "Segalanya diciptakan oleh pikiran. - Guru Ching Hai

Perasaan bertobat dan rendah hati sangatlah penting, namun mencintai diri sendiri jauh lebih penting, jika Anda tidak dapat mencintai Anda sendiri, dapatkah Anda mencintai orang lain? - Guru Ching Hai

Lebih baik merugikan diri daripada melukai orang lain, ini adalah kebenaran yang selalu tidak boleh kita lupakan, meskipun peraturan disiplin yang lain kurang kita perhatikan, itu bukan masalah besar. - Guru Ching Hai

Jika kita tidak mengubah diri dengan latihan rohani, kita tidak dapat menghindari karma kita sendiri. - Guru Ching Hai

Apakah karma perintang itu? Sesuatu yang tidak patut kita buat, yang akan merugikan kita sendiri, orang lain dan semua ciptaan. Setelah kita berbuat, kita akan menerima ganjaran dari Hukum Sebab Akibat. - Guru Ching Hai

Vegetarian bukan saja dari cara makan, tetapi yang terpenting adalah vegetarian secara pikiran, ucapan dan perbuatan. - Guru Ching Hai

Berpuasa (vegetarian) bukan berarti pantang makanan saja, yang terpenting adalah memutuskan pikiran yang buruk, kebiasaan yang jelek, pengaruh luar yang negatif. - Guru Ching Hai

Jika kita tidak melekat, tidak tergila-gila kepada dunia ini, dengna sendirinya kita tidak akan kembali. - Guru Ching Hai

Jika kita melekat pada suatu kesuksesan, kita tidak akan berkembang lagi. - Guru Ching Hai

Kita hidup di dunia ini, tetapi jangan sampai terikat kepada dunia. Kita perlu mengetahui bahwa dunia ini penuh dengan kesukaan yang palsu dan kita harus menjaga iman kita, agar selalu berada dalam Ajaran Sejati, bagaikan bunga teratai hidup dalam lumpur tanpa ternoda. - Guru Ching Hai

Metode Quan Yin merupakan seni bela-diri. Dengan seni bela-diri ini ktia dapat menaklukkan segala jenis kekuatan yang negatif baik yang di dalam batin maupun yang di luar. - Guru Ching Hai

MASJID MODERN

EVALUASI MANAJEMEN MASJID
BERBASIS BALANCED SCORCARD
Oleh: Muhammad Zen, S.Ag, Lc, MA[1]

Evaluasi atau Pengukuran kinerja suatu manajemen masjid adalah sangat penting bagi pengelola masjid, guna mengevaluasi dan memperbaiki kesalahan dan mendesain perencanaan masa depan. Evaluasi atau pengendalian (control) juga merupakan salah satu fungsi manajemen masjid yang dapat menentukan keberhasilan atau melakukan pengukuran kinerja suatu organisasi masjid. Impelementasi evaluasi manajemen modern masjid (selanjutnya dikenal dengan istilah balance scorcard) secara komprehensif memberikan nilai tersendiri bagi pengelola masjid untuk dapat melakukan berbagai aktivitas masjid sesuai dengan fungsi masjid secara baik.
Istilah Balance Scorecard (selanjutnya disingkat BSC) bagi pengelolaan manajemen masjid mungkin terasa asing, sebab penerapan sistem ini awal mulanya dipergunakan dalam pengevaluasiaan manajemen sebuah perusahaan di dunia.
Itulah sebabnya, muncul pemikiran baru di dunia perusahaan, yang dipelopori oleh Kaplan (merupakan guru besar Ilmu Akuntansi dari Harvard Business School) dan Norton (merupakan konsultan dalam manajemen akuntansi dari Amerika.). Dalam buku karya mereka balanced-scorecard (1996) dikemukakan betapa pentingnya untuk melihat aspek-aspek (selain aspek finansial) yaitu non-financial guna proses balancing sebuah perusahaan, termasuk organisasi (masjid), sehingga manajemen modern perusahaan (masjid) dapat tercipta.
Awalnya evaluasi BSC diterapkan perusahaan kelas dunia untuk menggapai kesuksesan dalam mengelola perusahaan. Berdasarkan pengalaman banyak perusahaan kelas dunia yang mengimplementasikan BSC, diketahui bahwa terjadi perbaikan kinerja perusahaan dari tahun ke tahun. Demikian halnya dengan manajemen masjid, agar terjadi perbaikan kinerja pengelola dari tahun ke tahun diperlukan alat evaluasi manajemen modern masjid berbasis BSC. Karena itu, BSC memiliki posisi strategis bagi pengembangan manajemen masjid modern yang dibutuhkan oleh pengelola masjid saat ini di Indonesia.


Pengertian Balance Scorecard
Secara etimologi Balance Scorecard terdiri dari Balance yang berarti seimbang, kata balancing ternyata tidak hanya dipakai untuk menyeimbangkan roda mobil supaya nyaman dikendarai. Dalam roda organisasi (masjid) balancing juga diperlukan agar kendaraan atau wadah organisasi dapat berjalan mencapai tujuan yang dikehendaki tanpa goncangan dan melaju secara mulus, sehingga keseluruhan komponen masjid seperti pengurus, karyawan dan jamaah (stakeholder) merasakan aman dan tentram di dalam pengelolaan manajemen masjid. Sedangkan scorecard berarti ukuran kinerja, scorecard adalah ukuran kinerja kesuksesan manajemen masjid tidak hanya dilihat dari aspek finansial/ keuangan masjid saja, melainkan juga dari aspek keaktifan jamaah, aspek internal organisasi (idarah atau manajemen, ta’mir atau kegiatan, riayah atau pemeliharaan), dan aspek pertumbuhan dan perkembangan (melalui pembentukan value (nilai) dari keaktifan karyawan, penguasaan sistem informasi, dan pemberian motivasi).
Lebih jelasnya, balancing organisasi dapat dicermati dengan model yang sangat sederhana sebagai contoh; Seorang pemain akrobat menyeimbangkan diri untuk tidak jatuh ketika berjalan diatas tali. Apa yang dilakukan pemain akrobat tersebut agar sukses dalam penampilannya? Tentunya, berbagai upaya telah dilakukan pemain akrobat tersebut dengan latihan terus-menerus dan adanya komitmen. Upaya penyeimbangan tersebut tentu akan menyangkut pihak-pihak didalam dan diluar organisasi yang dijadikan tolak ukur guna mengimbangi score-card yang berdimensi aspek keuangan dan sebagainya.
Dengan demikian, dalam melakukan evaluasi BSC dapat dicermati dari keterlibatan seluruh komponen masjid --baik seluruh pengurus atau pengelola, karyawan masjid maupun keterlibatan jamaah masjid--, dalam melakukan upaya memakmurkan masjid. Kebersamaan seluruh komponen tersebut tentunya sangat berpengaruh dalam menentukan makmur atau tidaknya sebuah masjid dalam mencapai keberhasilan program kegiatan yang diharapkan secara bersama-sama.
Agar perencanaan dapat direalisasikan sesuai yang diinginkan, Abdurrasyad Saleh menjelaskan perlu adanya tahap dalam pengevaluasian terdiri beberapa langkah yaitu menetapkan standar, mengadakan pemeriksaan dan penelitian terhadap pelaksanaan manajemen masjid yang telah ditetapkan, membandingkan antara pelaksanaan tugas dengan standar, dan mengadakan tindakan-tindakan perbaikan atau pembetulan dengan diperkaya evaluasi berbasis BSC.
Secara terminologi, Sony menegaskan Balance Scorecard: “ Suatu alat sistem untuk memfokuskan organisasi (masjid), meningkatkan komunikasi antar tingkatan manjemen, menentukan tujuan organisasi dan memberikan umpan balik yang terus-menerus guna keputusan yang strategis .”
Dari uraian di atas maka, evaluasi berbasis BSC mencoba untuk menciptakan suatu gabungan penilaian atau pengukuran kinerja pengelola sebuah perusahaan atau organisasi termasuk masjid.

Tahap-tahap Evaluasi BSC
Untuk mengevaluasi manajemen masjid secara komprehensif, Kaplan dan Norton menjelakan evaluasi BSC dapat dicermati melalui berbagai pengukuran kinerja dari aspek finansial (keuangan), aspek customer (jamaah), aspek internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir; kegiatan, dan riayah; pemeliharaan), dan aspek pertumbuhan dan pembelajaran (karyawan, sistem informasi dan motivasi). Lebih jelasnya, 4 aspek perspektif tersebut yaitu :
1. Perspektif finansial (keuangan)
Evaluasi ini dapat diketahui dari aspek keuangan kas masjid, berapakah pendapatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan masjid tersebut? Bagaimana pengelola masjid berorientasi mendapatkan keuangan setiap periode yang halal dan baik secara mandiri maupun dari para donatur dari segi kuantitatif? Pada saat masjid melakukan pengukuran secara finansial, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mendeteksi keberadaan sumber-sumber dana keuangan masjid dari mana saja sumber dana diraih? Apakah dari keuntungan bazar amal, penjualan kalender hijriah, sewa aula, hasil penjualan barang tak terpakai/rusak dan sebagainya? Apakah dari kotak amal di tempat umum: pom bensin, rumah makan, di toko, atau dari donatur tetap?
Kaplan menggolongkan ada tiga tahap perkembangan organisasi (masjid) dalam aspek keuangan yaitu; growth (pertumbuhan), sustain (menopang), dan harvest (memanen). Semakin baik manajemen masjid dengan multi variasi kegiatan dan transparansi dana akan meningkatkan sumber pendapatan keuangan masjid tersebut. Hal ini juga yang dapat membedakan antara masjid yang menerapkan manajemen tradisional dan modern. Sesuai dengan penerapan manajemen yang dipergunakan masing-masing, keuangan masjid dapat dilihat apakah masjid tersebut masih proses pertumbuhan (growth) yaitu di mana sumber dana belum jelas/ keuangan kas sering defisit, proses menopang (sustain) yaitu di mana sumber dana kas masjid tidak jelas/pasti atau belum ada donator tetap dan keuangan kadang defisit kadang surflus. Kedua proses ini termasuk kategori indikator menggunakan manajemen tradisional. Adapaun manajemen modern masjid biasanya pada posisi memanen (sustain) yaitu di mana sumber dana masjid sudah pasti dan jelas, memiliki banyak donator tetap, ada usaha mandiri pengurus dalam mendapatkan dana sehingga posisi keuangan senantiasa surflus.
Agar keuangan meningkat tiap tahun, perlu adanya upaya pendekatan personal dan kreativitas pengurus masjid mencari dari mana saja sumber dana masjid, dengan menciptakan multi kegiatan yang dibutuhkan anggota jamaah dan adanya transparansi dana akan meningkatkan trust (kepercayaan) jamaah terhadap pengurus, implikasinya dapat dibuktikan bahwa keuangan kas masjid akan semakin meningkat.
2. Perspektif customer (jamaah)
Evaluasi ini dapat dicermati dari keaktifan jamaah. Mengapa jamaah ada yang aktif dan pasif? Itu semua tergantung agenda kreativitas pengurus masjid. Bagaimana pengelola masjid menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dengan meramu berbagai kegiatan ta’mir masjid yang kreatif dan dibutuhkan oleh para customer (jamaah). Pengukuran keaktifan jamaah dapat dilihat dari keaktifan sholat berjamaah baik sholat wajib, sholat jum’at, sholat tarawih maupun sholat id. Dengan kata lain, perspektif ini mengidentifikasi bagaimana kondisi dan respon jamaah masjid terhadap pengelola sebuah masjid dan kegiatan ta’mir. Untuk mengetahui manajemen masjid juga dapat dilacak dari keaktifan pengurus membuat data base jamaah masjid berapa jumlah biodata anggota jamaah saat ini yang dimiliki masjid terdiri dari segi usia kaum bapak, ibu, remaja, anak-nak yang sudah bekerja/belum bekerja, menikah/belum menikah, hidup/meninggal.
Perspektif ini juga memperhatikan kepuasan jamaah (customer satisfaction) terhadap berbagai kegiatan atau manajemen masjid selama masa kepengurusan pengelola. Pengukuran terhadap tingkat kepuasan jamaah ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik diantaranya: survei melalui surat (pos), interview melalui telepon, atau personal interview maupun melalui kotak kritik dan saran
3. Perspektif internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir;kegiatan, riayah; pemeliharaan)
Evaluasi ini dapat dinilai dari aspek perspektif internal organisasi terdiri dari idarah; manajemen, ta’mir;kegiatan, dan riayah; pemeliharaan. Dari aspek ini dapat dilihat bagaimana pengelola masjid menerapkan manajemen masjid dan menjalankan program kegiatan ta’mir dan pemeliharaan agar mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Moh E. Ayub menjelaskan idarah (manajemen) ada dua bidang yaitu; pertama, idarah binail maadiy (Phisical Management) adalah manajemen secara fisik yang meliputi kepengurusan masjid, pembangunan fisik masjid, kebersihan, ketertiban dan keindahan masjid. Kedua, idarah Binail Ruhiy (Functional Management) adalah pengaturan tentang pelaksanaan fungsi masjid sebagai wadah pembinaan umat, sebagai pusat pembangunan umat dan kebudayaan Islam seperti dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Perspektif ini dapat mengavaluasi apakah pengelola masjid menerapkan manajemen secara baik. Dalam perspektif ini juga, manajemen masjid dapat dievaluasi melalui pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh pengelola masjid untuk menciptakan setiap kegiatan ta’mir dan pemeliharaan/riayah.
Semakin baik manajemen akan semakin banyak kegiatan yang kreatif dan inovatif yang dapat memberikan gambaran tersendiri terhadap tingkat kesungguhan, pendidikan pengelola dalam memanaje sebuah masjid. Untuk merubah paradigma manejemen yang tradisional menjadi profesional diperlukan adanya kerja sama dari seluruh komponen masjid yaitu jamaah dan karyawan, terutama pengurus DKM yang harus memiliki pola keterbukaan manajemen, adanya kerjasama dan bermusyawarah di mana saling menerima dan menghargai pendapat orang lain sehingga dapat menyusun dan melaksanakan berbagai kegiatan di samping pemeliharaan masjid sesuai apa yang dibutuhkan secara bersama baik oleh anggota jamaah, donatur maupun pengelola masjid.
4. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran
Evaluasi ini dapat dicermati dalam perspektif pertumbuhan dan pembelajaran masjid yang meliputi bagaimana pengelola masjid dapat meningkatkan dan menciptakan value dalam organisasi masjid secara terus menerus, terutama tercipta interaksi hubungan yang baik antara pengelola dengan karyawan (merbot), menciptakan budaya organisasi masjid, memiliki sistem informasi yang mutakkhir, dan adanya pemberian motivasi dan pembelajaran kepada karyawan.
Jelasnya, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan masjid terbagi kepada 3 faktor utama, yaitu Orang (karyawan), Sistem (sistem informasi), dan Prosedur organisasi (Motivasi, Pemberdayaan dan Penyetaraan) yang berperan dalam mendukung pertumbuhan jangka panjang terlaksana perencanaan masjid.
Dari penilaian evaluasi kinerja berbasis BSC, dapat ditarik benang merah betapa penting menggunakan evaluasi ini sebab dapat mengukur keberhasilan sebuah perencanaan dalam berbagai perspektif secara komprehensif. Terdiri dari empat persektif --yaitu perspektif keuangan, jamaah, internal organisasi, dan pembelajaran dan pertumbuhan oraganisasi masjid,-- yang menjadi sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan saat memberikan sebuah penilaian/pengevaluasian terhadap sebuah manajemen masjid. Keempat perspektif tersebut juga merupakan indikator kesuksesan pengelola dalam memanaje masjid yang saling melengkapi dan saling memiliki hubungan sebab akibat.

Penutup
Penerapan evaluasi BSC perlu tenaga super extra dari pengurus dengan memperbanyak kegiatan dalam memakmurkan masjid. Sebab, konsep ini membutuhkan suatu komitmen baik dari manajemen pengurus, jamaah maupun karyawan yang terlibat dalam organisasi masjid guna tercapai tujuan yang ditentukan. Evaluasi kinerja manajemen masjid berbasis BSC merupakan faktor yang amat penting bagi keberhasilan sebuah manajemen masjid. Oleh karena itu, sudah saatnya setiap masjid melakukan pembenahan diri dalam memperbaiki kinerja manajemen masjid melalui perbaikan-perbaikan dalam empat perspektif yaitu perspektif keuangan, jamaah (customer), internal organisasi (idarah; manajemen, ta’mir; kegiatan, dan riayah), dan pembelajaran dan pertumbuhan oraganisasi masjid (adanya value kemampuan karyawan (merbot), sistem informasi mutakkhir, dan pemberian motivasi dan pembelajaran kepada karyawan).
Dengan BSC para pengelola masjid setidak-tidaknya bisa mengukur potensi kelebihan, kelemahan, peluang dan hambatan dalam mengelola masjid menuju kepada perbaikan program dari tahun ke tahun, dengan kreativitas dan inovasi kegiatan sehingga dapat meningkatkan trust jamaah ditandai meningkatnya keuangan kas masjid, meningkatnya jumlah jamaah sholat wajib dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Semoga. Waallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 1996. The BSC: TranslatingStrategy into Actions. Boston, MA: Harvard Business School Press.
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 2004. Strategy Maps: Converting Intangible Assets into Tangible Outcomes,. Boston, MA: Harvard Business School Press.
Kaplan, Robert S and David P. Norton. 2000.The Strategy Focused Organization:How BSC Companies Thrive in the New Business Environment. Boston, MA: Harvard Business School Press.
The BSC Institute http://www.balancedscorecard.org
Ahmad, Yani ,Drs, menuju masjid ideal, (Jakarta: LP2SI Haramai , 2001)
Ayub, Moh. E Drs Dkk, Manajemen masjid, (Jakarta: Gema insan press , 1996)
Yuwono, Sony, Petunjuk Praktis Penyusunan BSC: Menuju Organisasi yang Berfokus pada Strategi, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004)
Zen, Muhammad Zakat & Wirausaha, (Jakarta: CED, 2005)
Saleh, Abdurrasyad, Manajemen dakwah, (Jakarta: Bulan bintang, 1977)

[1] Penulis, Dosen Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Jakarta, dan Sekretaris Jendral Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UIN Jakarta

Syariah Marketting

Sumber: http://deniar.ueuo.com/?p=78

http://www.muhammadzen.wordpress.com/
Mungkin kita sudah sering mendengar tentang apa itu Bank Syariah, sekarang ada istilah baru untuk syariah marketing. Seperti apa itu?
Aku juga belum terlalu banyak tahu tentang apa itu syariah marketing, berikut adalah artikel yang didapat dari blog Yukikuncoro.
Bagaimana perkembangan ekonomi syariah di Indonesia saat ini? Apa tantangannya di masa depan? Apa solusi-solusi yang bisa diterapkan?
Itulah beberapa pertanyaan yang biasa diungkapkan oleh banyak pelaku usaha. Kenapa? Karena munculnya sistem ekonomi syariah menjadi semacam peluang besar, mengingat Indonesia memiliki penduduk beragama Islam terbesar di Dunia. Sampai saat ini saja penduduk muslim di Indonesia telah mencapai sekitar 200 juta jiwa. Sebuah pasar yang sangat besar bagi sebuah bisnis.
Memang kalau hanya dilihat dari jumlah, Indonesia merupakan pasar yang cukup menggiurkan. Tapi kalau kita lihat berdasarkan peluang bisnis, apakah cukup besar juga?
Ternyata, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia baru sekitar 1,3 persen dari total aset industri perbankan nasional. Sedangkan Malaysia sudah sekitar 10 persen, dan Timur Tengah mencapai 20 persen dari total aset industri perbankan nasionalnya. Kita memang tidak bisa memungkiri bila Timur Tengah merupakan lokomotif industri perbankan syariah Internasional.
Namun di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki perbankan syariah dengan kinerja keuangan tertinggi di dunia. Tingkat profitabilitas bank syariah di Indonesia merupakan yang terbaik di dunia diukur dari rasio laba terhadap aset. Indonesia juga merupakan negara yang perbankan syariahnya memiliki pertumbuhan sangat pesat. Baik dilihat dari bertambahnya jumlah bank maupun bertambahnya aset.
Tapi, apakah pertumbuhan ini akan berlangsung lama?
Berdasarkan prediksi Bank Indonesia, pada tahun-tahun ke depan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia akan mengalami penurunan. Salah satu penghambat pertumbuhannya adalah perbankan syariah masih dikendalikan oleh pasar yang hidup dalam pola pikir perbankan konvensional. Nasabah masih banyak yang menuntut dan mengharapkan tingkat keuntungan optimal dan tingkat kepuasan tanpa melihat faktor agama.
Nah, di sini kami mencoba menganalisis dengan melihat beberapa jenis pasar berdasarkan perilakunya. Pertama, pasar yang hanya ingin mendapatkan keuntungan finansial tanpa peduli apakah caranya sesuai dengan syariah. Pasar ini banyak disebut sebagai pasar rasional. Kedua, pasar yang hanya melihat sistemnya tanpa mempedulikan keuntungan finansial atau biasa disebut pasar emosional. Maksudnya, orang tertarik untuk berbisnis di pasar syariah karena alasan-alasan keagamaan yang lebih bersifat emosional. Bukan karena ingin mendapatkan keuntungan finansial yang bersifat rasional. Ada juga pasar yang selain melihat keuntungan finansial juga berpatokan syariah dalam mendapatkannya. Pasar inilah yang biasa kami sebut sebagai pasar spiritual.
Di masa depan, Kami mengamati ada pergeseran pasar dari tingkat intelektual atau rasional, menuju ke emosional, dan akhirnya bertransformasi ke spiritual. Pasar spiritual ini akan mempertimbangkan kesesuaian produk, keuntungan finansial dan nilai-nilai spiritual yang diyakininya.
Namun, tidak serta merta pasar rasional akan berpindah ke spiritual. Disinilah tantangan terbesar sistem syariah dalam membidik pasar rasional. Padahal seperti kita ketahui bahwa pasar rasional atau pasar mengambang merupakan pasar terbesar. Contoh pasar ini adalah pasar korporasi dan kelas menengah ke atas. Mereka tidak terlalu fanatik terhadap salah satu sistem, tapi lebih melihat prospektif finansial.
Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan dalam meraih pasar mengambang ini? Bagaimana caranya membawa pasar ini ke wilayah pasar spiritual?
Dalam buku ini, kami memperkenalkan konsep syariah marketing sebagai sebuah solusi. Sederhananya, syariah marketing merupakan suatu proses bisnis yang keseluruhan prosesnya menerapkan nilai-nilai Islam. Suatu cara bagaimana memasarkan suatu proses bisnis yang mengedepankan nilai-nilai yang mengagungkan keadilan dan kejujuran.
Sebelumnya, kami mendefinisikan marketing sebagai sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholders-nya. Jadi, bagi kami syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam.
Dengan syariah marketing, seluruh proses tidak boleh ada yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang Islami. Dan selama proses bisnis ini dapat dijamin, atau tidak terjadi penyimpangan terhadap prinsip syariah, maka setiap transaksi apapun dalam pemasaran dapat diperbolehkan.
Lihatlah Aa Gym. Siapa yang tak kenal Aa Gym? Banyak dari kita pasti telah mengenal Aa Gym sebagai sosok agamawan yang bersahaja baik di kalangan Islam maupun non Islam. Tapi mungkin tak banyak yang tahu bila Aa Gym merupakan pendiri dan pemilik banyak unit bisnis. Sampai saat ini, bisnis Aa Gym sudah menggurita di bawah MQ Corporation
Bisnis yang dilakukan Aa Gym tidak hanya yang berhubungan dengan agama atau yang berhubungan dengan ibadah. Tapi berbagai macam bisnis yang dilakukan dengan tujuan untuk memberikan kebahagiaan kepada setiap orang yang terlibat didalamnya. Baik diri sendiri, pelanggan, pemasok, distributor, pemiliki modal maupun pesaing. Dalam prosesnya, bisnis yang dilakukan Aa Gym ini bersandar pada prinsip syariah yang mengedepankan sikap dan perilaku bersahabat.
Selain Aa Gym, kami juga mengambil contoh Nabi Muhammad SAW yang dalam hidupnya melakukan perdagangan atau bisnis. Di sini, kami menekankan pada karakter dan sifat Nabi Muhammad dalam melakukan proses bisnis. Nabi Muhammad telah menunjukan bagaimana cara berbisnis yang berpegang taguh pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah sekaligus bisa tetap memperoleh keuntungan yang optimal.
Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai yang terdapat pada Al-Quran dan Hadist, Nabi Muhammad melakukan bisnis secara profesional. Nilai-nilai tersebut menjadi suatu landasan yang dapat mengarahkan untuk tetap dalam koridor yang adil dan benar. Landasan atau aturan-aturan inilah yang menjadi suatu syariah atau hukum dalam melakukan suatu bisnis.
Ada beberapa sifat yang membuat Nabi Muhammad berhasil dalam melakukan bisnis. Pertama adalah jujur atau benar. Dalam berdagang, Nabi Muhammad selalu dikenal sebagai seorang pemasar yang jujur dan benar dalam menginfromasikan produknya. Bila ada produknya yang memiliki kelemahan atau cacat, maka tanpa ditanyakan Nabi Muhammad langsung menyampaikannya dengan jujur dan benar.
Kedua, amanah atau dapat dipercaya. Seorang pebisnis haruslah dapat dipercaya seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad dalam memegang amanah. Saat menjadi pedagang, Nabi Muhammad selalu mengembalikan hak milik atasannya, baik itu berupa hasil penjualan maupun sisa barang.
Sifat Nabi Muhammad ketiga adalah fathonah atau cerdas dan bijaksana. Dalam hal ini, pebisnis yang fathonah merupakan pemimpin yang mampu memahami, menghayati, dan mengenal tugas dan tanggung jawab bisnisnya dengan sangat baik. Dengan sifat ini, pebisnis dapat menumbuhkan kreativitas dan kemampuan dalam melakukan berbagai inovasi yang bermanfaat bagi perusahaan. Kita perlu menggunakan sifat ini agar bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses. Terutama dalam menghadapi persaingan yang tidak hanya interupted, complicated, dan sophisticated, tapi juga chaos.
Dan keempat, Nabi Muhammad memiliki sifat tabligh atau argumentatif dan komunikatif. Bila anda seorang pemasar, maka anda harus mampu menyampaikan keunggulan-keunggulan produk dengan menarik dan tepat sasaran tanpa meninggalkan kejujuran dan kebenaran.
Lebih dari itu, anda harus memiliki gagasan-gagasan segar dan mampu mengkomunikasikannya secara tepat dan mudah dipahami oleh siapapun yang mendengarkan. Dengan begitu, pelanggan dapat mudah memahami pesan bisnis yang ingin anda sampaikan.
Nah, bila anda telah memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan tuntunan syariah maka akan lebih mudah untuk melakukan syariah marketing. Tapi, apakah cukup hanya itu? Tidak. Karena untuk bisa mendapatkan pasar rasional tersebut, kita perlu mempersiapkan diri dengan konsep pemasaran ampuh agar mampu merealisasikannya.
Konsep pemasaran itu adalah syariah marketing strategy untuk memenangkan mind-share, syariah marketing tactic untuk memenangkan market-share, dan syariah marketing value dalam memenangkan heart-share.
Dengan syariah marketing strategy, dapat dilakukan pemetaan pasar berdasarkan pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi persaingan. Dari pemetaan potensi pasar sebelumnya, kami melihat bahwa pasar rasional atau pasar mengambang merupakan pasar yang sangat besar. Dan Anda harus dapat membidik pasar rasional yang sangat potensial tersebut. Setelah itu anda perlu melakukan positioning sebagai perusahaan yang mampu meraih mind-shar.
Namun setelah menyusun strategi, kita perlu melakukan syariah marketing tactic dalam memenangkan market-share. Kenapa? Karena bila positioning Anda di benak pasar rasional telah kuat, anda perlu melakukan diferensiasi yang mencakup apa yang ditawarkan (content), bagaimana menawarkan (context), dan apa infrastruktur dalam menawarkannya.
Langkah selanjutnya, anda perlu menerapkan diferensiasi secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan marketing-mix (price, product, place, promotion). Dan hal yang perlu anda siapkan juga, bagaimana anda melakukan selling dalam meningkatkan hubungan dengan pelanggan sehingga mampu menghasilkan keuntungan finansial.
Terakhir, semua strategi dan taktik yang sudah dirancang akan berjalan optimal bila disertai dengan peningkatan value dari produk atau jasa anda. Peningkatan value disini berarti bagaimana anda mampu mambangun brand yang kuat, memberikan service yang membuat pelanggan loyal, dan mampu menjalankan process yang sesuai dengan kepuasan pelanggan. Dengan syariah marketing value, anda akan mampu meraih heart-share pelanggan.
Di syariah marketing value, brand merupakan nama baik yang menjadi identitas seseorang atau perusahaan. Contohnya Nabi Muhammad yang terekam kuat di pikiran semua orang bahwa beliau adalah seorang Al-Amin. Brand itu menjadikan Nabi Muhammad lebih mudah untuk mengkomunikasikan produknya, karena semua orang telah mempecayai semua kata-katanya.
Selain brand, perusahaan yang menerapkan syariah marketing perlu juga memperhatikan servis yang ditawarkan agar dapat menjaga kepuasan pelanggan. Karena filosofinya, “every business is a service business”. Dan dalam melakukan pelayanan perlu penekanan sikap yang simpatik, lembut, sopan dan penuh kasih sayang. Kemudian, prinsip terakhir adalah proses, yang mencerminkan tingkat quality, cost dan delivery dari porduk atau jasa yang anda tawarkan.
Dengan berbagai tools pemasaran tersebut dan dilandasi oleh prinsip yang berlandaskan nilai-nilai syariah, maka pasar rasional akan dapat lebih mudah dibawa ke wilayah pasar spiritual. Akhirnya, tantangan dalam meningkatkan pertumbuhan pangsa pasar syariah menjadi dapat terealisasikan. Pasar akan semakin tumbuh seiring dengan pergeseran dari pasar rasional ke pasar spiritual.
Mari kita lihat Bank Muammalat Indonesia (BMI).
Sejak berdiri, BMI terus meningkatkan konten dan konteks produknya agar semakin menarik nasabah. Walau telah memiliki positioning kuat di benak nasabah, BMI terus mengembangkan infrastrukturnya terutama di bidang teknologi informasi, jaringan dan sumber daya manusia. Selain itu, sebagai upaya meningkatkan kualitas servis, BMI melakukan aliansi strategis. Di antara aliansi strategis yang dilakukan adalah bergabung dengan ATM bersama dan ATM BCA yang memungkinkan nasabah BMI dapat mengakses di lebih dari 2000 ATM di seluruh Indonesia. Hal ini tentunya akan membuat layanan terhadap nasabah semakin optimal. Alhasil, nasabah akan semakin loyal dan terpuaskan.
Contoh lain adalah Asuransi Takaful.
Seperti halnya pada lembaga-lembaga keuangan syariah lainnya, Asuransi Takaful terus berupaya melakukan perbaikan diri dalam melayani kebutuhan pelanggan. Salah satunya adalah meningkatkan infrastruktur teknologi informasi yang memegang peranan penting dalam menunjang bisnis asuransi. Infrastruktur teknologi informasi ini dapat memberikan informasi yang sangat akurat, transparans dan up-to-date terhadap proses penyelesaian suatu transaksi bisnis, seperti misalnya penyelesaian klaim.
Jadi, buku ini mencoba membawa anda untuk melihat peluang pasar mengambang yang sangat potensial, kiat-kiat untuk mendapatkannya yang berupa tools pemasaran ampuh, dan landasan atau prinsip yang perlu anda pegang teguh dalam proses pelaksanaannya. Anda akan ditunjukan bagaimana menerapkan sebuah solusi syariah marketing yang terdiri dari strategi, taktik dan peningkatan value dalam meraih pasar dengan pemahaman yang mendalam dan disertai dengan beberapa studi kasus. Selamat meraih pasar rasional yang sesuai dengan syariah marketing.